Keluarnya UEA dari OPEC+ Warnai Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Keluarnya UEA dari OPEC+ Warnai Lonjakan Harga Minyak Dunia

Richard Alkhalik • 29 April 2026 16:16

London: Harga minyak dunia mencatatkan lonjakan signifikan lebih dari tiga persen pada perdagangan Selasa, 28 April 2026. Reli harga ini dipicu oleh mandeknya upaya resolusi konflik di Iran yang berujung pada penutupan sebagian besar akses navigasi di Selat Hormuz dan membatasi rantai pasok energi dari Timur Tengah.

Melansir CNA, Rabu, 29 April 2026, peningkatan harga minyak tersebut sempat tertahan oleh manuver mengejutkan Uni Emirat Arab (UEA) yang mengumumkan akan keluar dari aliansi OPEC dan OPEC+.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni meroket USD 3,37 atau 3,1 persen menjadi USD 111,60 per barel pada pukul 13.36 GMT. Capaian tersebut melampaui rekor penutupan tertinggi sejak 7 April lalu, sekaligus menandai tren reli penguatan selama tujuh hari perdagangan berturut-turut.

Selain itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni turut melesat USD 3,72 atau 3,7 persen menjadi USD 100,09 per barel. Ini merupakan kali pertama kontrak berjangka WTI kembali menembus ambang batas USD 100 per barel semenjak 13 April lalu.

Kenaikan harga sedikit teredam usai UEA membuat keputusan untuk hengkang dari keanggotaan OPEC dan OPEC+. Langkah tersebut memberikan pukulan berat bagi pengekspor minyak negara tersebut, khususnya bagi Arab Saudi yang selama ini memegang kendali sebagai pemimpin di pasar minyak global.

Buntunya diplomasi AS-Iran

Presiden AS Donald Trump dilaporkan menolak proposal perdamaian terbaru yang diajukan Teheran. Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa sumber-sumber Iran bersikeras menangguhkan negosiasi program nuklir hingga sengketa maritim di perairan Teluk diselesaikan dan agresi militer dihentikan.

Ketidakpuasan Trump terhadap tawaran tersebut membuat resolusi konflik menemui jalan buntu. Imbasnya, Iran tetap menutup arus pengiriman logistik di Selat Hormuz yang merupakan jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global, ementara armada AS terus mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis Iran.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Analis Rystad Energi Jorge Leon mengatakan bahwa harga di atas USD 110 per barel adalah cerminan dari kepanikan pasar yang tengah mengkalkulasi ulang risiko geopolitik.

“Dengan perundingan perdamaian yang terhenti dan tidak adanya jalan yang jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz, para pelaku pasar memperhitungkan gangguan berkepanjangan terhadap jalur pasokan global yang sangat penting ini,” kata Leon, dikutip dari CNA, Rabu, 29 April 2026.

Ia menambahkan, dalam skenario paling ideal sekalipun, kesepakatan Washington-Teheran kemungkinan besar hanya bersifat parsial, sehingga masalah kelumpuhan Selat Hormuz berisiko tetap tidak terselesaikan, yang berarti ancaman lonjakan harga akan terus membayangi pasar.

Kepentingan lalu lintas maritim

Putaran negosiasi tatap muka antara delegasi AS dan Iran pada pekan lalu kandas tanpa membuahkan hasil. Data pelacakan kapal menunjukkan gangguan di kawasan tersebut. Enam kapal tanker minyak Iran terpaksa memutar haluan akibat blokade AS, meski sejumlah kecil lalu lintas komersial masih berupaya beroperasi.

Sebuah kapal tanker berbendera Panama pembawa minyak mentah Arab Saudi yaitu Idemitsu Maru serta armada gas alam cair kelolaan Abu Dhabi National Oil Co dari UEA tercatat masih melintasi selat tersebut pada awal pekan ini.

Sebelum pecahnya agresi militer AS-Israel dengan Iran pada 28 Februari lalu, kawasan perairan ini rutin dilintasi 125 hingga 140 kapal setiap harinya.

Analis PVM Tamas Varga memperingatkan defisit pasokan sekitar 10 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari di jalur tersebut akan memicu kontraksi pasar.

Tamas mengatakan hilangnya volume pasokan raksasa tersebut akan terus melampaui sentimen penurunan permintaan global akibat tekanan inflasi yang pada akhirnya membuat keseimbangan pasar minyak dunia semakin ketat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)