Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times
Panglima CENTCOM Beri Pengarahan ke Trump Terkait Opsi ‘Serangan Terakhir' untuk Iran
Dimas Chairullah • 1 May 2026 20:11
Washington: Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, dilaporkan telah memberikan pengarahan langsung kepada Presiden Donald Trump mengenai potensi opsi serangan mematikan yang disebut sebagai "pukulan terakhir" terhadap Iran.
Dalam pengarahan krusial yang berlangsung di Ruang Situasi (Situation Room) Gedung Putih tersebut, Cooper memaparkan berbagai opsi taktis yang mungkin dilakukan oleh militer AS.
Ia secara spesifik menguraikan skenario "gelombang serangan singkat dan dahsyat" apabila presiden pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan operasi tempur.
Adapun daftar target sasaran yang dinilai dalam draf tersebut mencakup sisa-sisa aset militer, tokoh kepemimpinan, hingga infrastruktur strategis milik Iran, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Jumat, 1 Mei 2026.
Lebih jauh, Pentagon juga dilaporkan tengah mempertimbangkan pengerahan sistem persenjataan canggih untuk memuluskan operasi tersebut, termasuk penggunaan rudal hipersonik jenis baru yang dikenal dengan julukan "Dark Eagle".
Sistem persenjataan mutakhir ini diklaim mampu menghantam target secara presisi hingga jarak 2.000 mil atau sekitar 3.218 kilometer. Kehadiran senjata ini berpotensi kuat ditujukan untuk menargetkan dan menghancurkan sisa-sisa peluncur rudal balistik milik Teheran.
Selain rudal hipersonik, armada pesawat pengebom B-1B Lancer milik AS juga dilaporkan telah meningkatkan intensitas kehadirannya di kawasan Timur Tengah.
Pesawat pengebom strategis ini dapat dipersenjatai dengan senjata hipersonik seberat hingga 5.000 pon dan dirancang khusus untuk membawa muatan destruktif dalam jumlah yang sangat besar.
Eskalasi ketegangan ini berakar ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Aksi tersebut langsung memicu serangan pembalasan dari Teheran terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk serta berujung pada penutupan perairan vital Selat Hormuz.
Sebuah kesepakatan gencatan senjata sebelumnya sempat diumumkan pada 8 April melalui upaya mediasi Pakistan, yang kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan di Islamabad pada 11-12 April. Namun, perundingan damai tersebut berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan final.
Merespons situasi tersebut, Presiden Trump kemudian secara sepihak memperpanjang masa gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu baru, menyusul adanya permintaan khusus dari pihak Pakistan.