Wabah Ebola di Kongo Tewaskan Lebih dari 2.000 Orang, Kasus Capai 4.381

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menewaskan 2.011 orang dari 4.381 kasus terkonfirmasi. (Anadolu Agency)

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan Lebih dari 2.000 Orang, Kasus Capai 4.381

Willy Haryono • 11 August 2026 20:00

Kinshasa: Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menewaskan sedikitnya 2.011 orang dari 4.381 kasus terkonfirmasi. Otoritas kesehatan menyebut wabah tersebut sebagai yang berkembang paling cepat dalam sejarah Ebola.

Dikutip dari India Today, data pemerintah terbaru yang dirilis pada Selasa, 11 Agustus 2026, menunjukkan sebanyak 704 pasien masih menjalani perawatan dan isolasi.

Upaya penanganan wabah menghadapi berbagai kendala, termasuk konflik bersenjata, buruknya kondisi jalan, serta penghentian kerja tenaga kesehatan akibat persoalan pembayaran.

Wabah tersebut secara resmi diumumkan pada 15 Mei 2026. Namun, analisis sekuensing virus menunjukkan penularan telah berlangsung sejak Februari, atau sekitar tiga bulan sebelum wabah terdeteksi dan diumumkan secara resmi.

Laju peningkatan korban menunjukkan betapa cepatnya wabah tersebut berkembang. Dibutuhkan sekitar sembilan pekan bagi jumlah korban tewas untuk mencapai 1.000 orang. Namun, jumlah itu kemudian berlipat menjadi lebih dari 2.000 hanya dalam waktu sekitar tiga pekan.

Dengan jumlah tersebut, wabah Ebola terbaru di Kongo kini menjadi wabah Ebola terbesar kedua dalam sejarah, setelah wabah Afrika Barat pada 2014-2016 yang mencatat lebih dari 28.000 kasus dan 11.000 kematian.

Belum Ada Vaksin

Wabah kali ini berbeda dari sebagian besar wabah Ebola sebelumnya karena disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola yang relatif langka. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui khusus untuk jenis virus tersebut. Uji klinis telah dimulai di Provinsi Ituri, wilayah yang menjadi pusat wabah.

Pekerja bantuan mengatakan penularan masih lebih cepat daripada kemampuan petugas kesehatan dalam meresponsnya di lima provinsi di wilayah timur Kongo. Sejumlah tenaga kesehatan juga melakukan mogok kerja karena belum menerima pembayaran sejak wabah dinyatakan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sebagian besar kasus baru masih ditemukan di luar daftar orang yang sebelumnya diketahui melakukan kontak dengan pasien. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rantai penularan masih berada di luar kendali petugas kesehatan.

Tingkat kematian pada wabah saat ini juga tergolong tinggi. Data pemerintah menunjukkan case fatality rate (CFR) mencapai 45,9 persen, dibandingkan 39,6 persen pada wabah Ebola Afrika Barat 2014-2016.

Paul Hunter, profesor kedokteran di University of East Anglia, Inggris, mengatakan tidak adanya vaksin efektif membuat pengendalian wabah sangat bergantung pada kemampuan menemukan pasien dan merawat mereka di fasilitas yang aman.

Namun, kondisi geografis dan keamanan di wilayah terdampak membuat upaya tersebut jauh lebih sulit.

"Di wilayah terpencil dengan konflik yang terus berlangsung dan komunikasi yang terputus, pemantauan rutin bisa sangat sulit," kata Hunter. Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat petugas kesehatan tidak mampu menemukan kasus cukup dini untuk mencegah penularan.

Kasus Awal Sempat Disangka Malaria

WHO mengatakan sejumlah kasus pada awal wabah di salah satu wilayah paling terpencil dan rentan di Kongo sempat salah didiagnosis sebagai malaria dan tifus. Pemeriksaan awal juga dilakukan untuk jenis virus Ebola yang lebih umum.

Direktur Regional WHO untuk Afrika, Dr Mohamed Yakub Janabi, menggambarkan tantangan tersebut dengan mengatakan bahwa petugas kesehatan kini "mengejar virus, tetapi virus berada di depan kami."

Situasi tersebut diperburuk oleh konflik bersenjata yang membuat sejumlah wilayah sulit dijangkau. Kondisi jalan dan komunikasi yang buruk juga menghambat pelacakan kontak, pengujian, serta isolasi pasien.

Virus Ebola pertama kali diidentifikasi pada 1976 di dekat Sungai Ebola, yang kini berada di wilayah Republik Demokratik Kongo. Wabah yang berlangsung saat ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang dihadapi negara tersebut dan menjadi yang terbesar sejauh ini.

Dengan kasus dan kematian yang masih terus meningkat, otoritas kesehatan dan organisasi kemanusiaan kini berpacu untuk mengejar laju penyebaran virus yang sejauh ini bergerak lebih cepat daripada upaya penanganannya.

Baca juga:  Krisis Kemanusiaan di RD Kongo Kian Memburuk Akibat Wabah Ebola

(Willy Haryono)