Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Naik 1%, Brent Tembus USD88,66 per Barel
Eko Nordiansyah • 12 August 2026 08:18
Houston: Harga minyak naik lebih dari satu persen pada Selasa, 11 Agustus 2026, setelah Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi tuntutan Teheran. Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi ketidakpastian mengenai prospek kesepakatan damai antara kedua negara.
Di sisi lain, pemerintah AS menaikkan perkiraan gangguan produksi minyak mentah Timur Tengah akibat konflik Iran. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan proyeksi harga minyak.
Dikutip dari Investing, Rabu, 12 Agustus 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober naik 1,1 persen menjadi USD88,66 per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi USD90,03 per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September naik 1 persen menjadi USD82,96 per barel.
Iran minta AS penuhi tuntutan
Pelaku pasar masih memantau perkembangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz sejak pekan lalu. Sebelumnya, sejumlah pejabat AS berulang kali menyatakan pembicaraan dengan Iran tengah berlangsung, tetapi Teheran membantah klaim tersebut.Kedua pihak juga menyampaikan pernyataan berbeda mengenai kondisi jalur pelayaran strategis tersebut. AS menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi pelayaran komersial, sedangkan Iran memperingatkan jalur tersebut praktis masih tertutup.
Ketidakpastian tersebut, ditambah belum adanya terobosan dalam perundingan damai, mendorong harga minyak menguat dalam beberapa sesi terakhir. Pada Senin, harga minyak bahkan melonjak sekitar lima persen.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)
Iran saat ini melakukan pembicaraan dengan Oman untuk menyusun kerangka pengelolaan Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut negosiasi kedua negara telah memasuki tahap lanjut dan berada pada titik krusial.
Sementara itu, Bloomberg News melaporkan AS dan Iran hampir mencapai "semacam kesepakatan" terkait potensi perjanjian damai. Laporan tersebut mengutip Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif.
Oman dan Pakistan diketahui berperan sebagai mediator dalam konflik antara AS dan Iran.
Menurut Kpler, lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz telah melambat drastis. Data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang terkonfirmasi melintas turun dari 15 kapal pada Jumat menjadi 11 kapal pada Sabtu dan hanya enam kapal pada Minggu.
Gangguan pasokan minyak AS
Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Selasa menaikkan perkiraan gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran menjadi sekitar 600 ribu barel per hari hingga akhir 2027.EIA mengatakan peningkatan proyeksi tersebut mempertimbangkan masih terhambatnya lalu lintas di Selat Hormuz. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga Agustus.
"Kami telah menaikkan estimasi produksi minyak mentah Timur Tengah yang terhenti (shut-in) untuk bulan-bulan mendatang dibandingkan dengan prakiraan Juli, karena masih adanya hambatan parah terhadap lalu lintas di Selat Hormuz," ungkap EIA.
EIA memperkirakan sebagian besar produksi minyak mentah di kawasan tersebut akan kembali mendekati rata-rata sebelum konflik pada awal 2027.
Badan tersebut juga menaikkan proyeksi harga spot minyak mentah Brent menjadi rata-rata USD85 per barel pada kuartal III-2026, dari perkiraan sebelumnya USD74 per barel.
Selain itu, EIA memperkirakan volume minyak mentah dan cairan minyak bumi yang melewati Selat Hormuz rata-rata hanya mencapai 4,9 juta barel per hari pada kuartal II-2026.
Angka tersebut turun tajam dibandingkan rata-rata 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV-2025, sebelum konflik dimulai.