El Nino 2026 Menguat, Kapan Musim Hujan Tiba? Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi: Pedagang jas hujan menerobos hujan lebat di pedestrian Jalan Sudirman, Jakarta. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz

El Nino 2026 Menguat, Kapan Musim Hujan Tiba? Ini Penjelasan BMKG

Lukman Diah Sari • 4 August 2026 11:29

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan saat ini El Nino 2026 telah mencapai kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Curah hujan diprakirakan sangat rendah pada Agustus hingga September 2026, namun hujan diprediksi mulai memasuki wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026.

"Sehingga pengaruh El Nino terhadap curah hujan di Indonesia akan berangsur melemah," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, mengutip Antara, Selasa, 4 Agustus 2026.

Teuku menambahkan, El Nino mulai aktif pada Juni 2026, diperkirakan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan atau sekitar Mei 2027. Namun, durasi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.

"Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan," kata dia.

Dia menerangkan kondisi El Nino saat ini berisiko memicu musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, El Nino saat ini memiliki indeks ENSO sebesar +1,59 yang menempatkannya pada kategori kuat.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat yang ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kami menggunakan data periode Mei, Juni, dan Juli yang menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," jelas dia.


Ilustrasi hujan lebat di Jakarta. Metrotvnews.com

Ia menjelaskan BMKG telah mengingatkan potensi El Nino sejak pertengahan Maret 2026, ketika fenomena tersebut masih diproyeksikan berada pada kategori moderat. Selanjutnya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni menetapkan El Nino telah aktif.

BMKG juga mencatat dampak El Nino tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah di selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.

Sementara itu, wilayah seperti pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan secara signifikan karena memiliki pola hujan yang berbeda. Teuku mengatakan El Nino berpotensi mempengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertanian, penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

(Lukman Diah Sari)