Kinerja Ekonomi Indonesia Disebut Tetap Menguat Berdasarkan Sejumlah Indikator

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Kinerja Ekonomi Indonesia Disebut Tetap Menguat Berdasarkan Sejumlah Indikator

Deny Irwanto • 30 July 2026 15:31

Jakarta: Persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dinilai perlu dibaca secara berimbang dengan melihat indikator ekonomi makro yang dirilis pemerintah. Pakar ekonomi Surya Vandiantara menilai hasil survei mengenai persepsi publik tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan untuk menggambarkan kondisi riil perekonomian nasional.

"Hasil survei tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kondisi riil perekonomian Indonesia," kata Surya dalam keterangan tertulis dikutip, Kamis, 30 Juli 2026.

Menurut Surya, survei pada dasarnya mengukur persepsi masyarakat, sedangkan kondisi ekonomi juga perlu dilihat dari berbagai indikator fundamental yang mencerminkan kinerja perekonomian nasional.

Ia mencontohkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sepanjang 2025 sebesar 41.052,2 juta dolar Amerika Serikat. Capaian tersebut disebut melanjutkan tren surplus pada tahun-tahun sebelumnya.

"Surplus neraca perdagangan ini melanjutkan tren positif yang dicapai pada pada era pemerintahan sebelumnya di tahun 2023 sebesar 36.420,3 Juta US$ dan tahun 2024 sebesar 31.329,6 Juta US$," jelas Surya.

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.


Selain neraca perdagangan, Surya menilai pertumbuhan ekonomi juga menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi kumulatif Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen, meningkat dibandingkan 2024 sebesar 5,03 persen dan 2023 sebesar 5,05 persen.

"BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi cumulative (C to C) tahun 2025 mencapai 5,11%. Bertumbuh dari tahun 2024 sebesar 5,03% dan tahun 2023 5,05%," bebernya.

Surya juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia yang berdasarkan data Bank Indonesia mencapai 145,6 miliar dolar Amerika Serikat pada akhir Juni 2026 atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

"Ketiga indikator fundamental perekonomian ini baik Neraca Perdagangan, PDB, maupun Cadangan Devisa merupakan indikator utama yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia stabil dan terus bergerak maju," katanya.

Menurut Surya, tantangan berikutnya adalah memastikan informasi mengenai berbagai capaian ekonomi dapat diterima masyarakat secara lebih luas sehingga persepsi publik juga didukung oleh data yang tersedia.

"Sehingga yang perlu dilakukan bukanlah menganulir hasil survei SMRC ataupun membuat survei tandingan, melainkan lebih proaktif dalam menyampaikan keberhasilan yang sebenarnya sudah dicapai," katanya.

Ia menambahkan, penyampaian informasi mengenai berbagai capaian di sektor ekonomi perlu terus diperkuat agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan ekonomi nasional. "Permasalahan inilah yang akhirnya menyebabkan penilaian masyarakat terhadap ekonomi Indonesia menjadi rendah," ujarnya.

(Deny Irwanto)