Muhammadiyah: Perbedaan Penentuan Lebaran Hanya Soal Metode

Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy. Foto: Metrotvnews.com/Athiyya.

Muhammadiyah: Perbedaan Penentuan Lebaran Hanya Soal Metode

Athiyya Nurul Firjatillah • 20 March 2026 10:16

Jakarta: Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menegaskan perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri dipengaruhi metode yang digunakan, bukan soal benar atau salah. Ia menjelaskan, perbedaan tersebut berkaitan dengan cara memahami dan menentukan awal bulan Hijriah.

“Kemarin Pak Quraish Shihab dalam memberikan ceramah di istana itu sangat jelas ya, itu beliau memaknai di dalam Al-Qur’an tentang menyaksikan syahadah ya, itu apa itu Pak? Faman syahida minkumusy-syahra falyasumhu, barang siapa yang menyaksikan datangnya bulan Ramadan maka hendaknya dia berpuasa,” kata Muhadjir, usai Salat Idulfitri di Gedung PP Muhammadiyah, Jumat, 20 Maret 2026.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji itu mengatakan, makna syahadah tidak tunggal. Istilah tersebut bisa dimaknai sebagai melihat secara langsung maupun melalui perhitungan atau pengetahuan.

Syahadah itu bisa berarti melihat, bisa berarti menghitung atau melihat dengan pengetahuan gitu. Seperti asyhadu alla ilaha illallah, kita bersaksi kepada Allah itu tidak karena melihat Allah kan? Karena kita keyakinan, karena kita akal sehat kita menyatakan bahwa ada Tuhan itu, tidak ada Tuhan selain Allah maka kita bersyahadat. Sama itu, jadi ini soal perbedaan metodologi yang saya kira tidak perlu dipertajam,” ungkap eks Menko PMK tersebut.

Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaa (Mendikbud) itu mencontohkan, Muhammadiyah kini menggunakan pendekatan baru melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam menentukan awal bulan. Menurutnya, dalam sistem tersebut, kemunculan hilal di satu wilayah dapat berlaku secara global.

“Untuk tahun ini Muhammadiyah sudah menggunakan tajdid baru ya, hasil tajdid, hasil kajian pembaharuan yaitu kita menggunakan namanya Kalender Hijriah Global Tunggal. Artinya bahwa sekarang untuk wujudul hilal itu, keberadaan hilal itu tidak hanya diukur di wilayah tertentu tetapi berlaku seluruh dunia. Kebetulan tahun ini tanggal satu hilal itu muncul di Alaska. Ketika tanggal satu muncul di Alaska, maka untuk seluruh dunia berlaku itu, tidak hanya di Alaska saja,” ujar dia.

Muhadjir menegaskan, perbedaan metode dalam penentuan Lebaran merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan di tengah masyarakat. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan Keputusan Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)