Klaim Serangan 91 Drone ke Kediaman Putin Diragukan Ukraina dan Eropa

Serangan drone ke kediaman Presiden Vladimir Putin diragukan kebenarannya. Foto: TASS

Klaim Serangan 91 Drone ke Kediaman Putin Diragukan Ukraina dan Eropa

Muhammad Reyhansyah • 1 January 2026 15:42

Moskow: Klaim Rusia bahwa Ukraina melancarkan serangan besar-besaran menggunakan 91 drone ke kediaman pribadi Presiden Vladimir Putin dinilai berpotensi menggagalkan pembicaraan damai yang selama berbulan-bulan diupayakan untuk mengakhiri invasi Moskow ke Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai “rekayasa sepenuhnya” yang bertujuan menciptakan pembenaran bagi serangan Rusia selanjutnya ke Kyiv dan wilayah Ukraina lainnya.

“Saya yakin mereka hanya sedang menyiapkan dasar untuk serangan, kemungkinan ke ibu kota, kemungkinan ke gedung-gedung pemerintahan,” ujar Zelensky, dikutip dari The Independent, Kamis, 1 Januari 2026.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak terpengaruh oleh klaim Rusia tersebut. Ia mengaku “sangat marah” mendengar laporan mengenai serangan itu. Reaksi tersebut dinilai sebagai salah satu tujuan utama tuduhan Moskow, mengingat sikap Trump dalam beberapa bulan terakhir dinilai berayun antara mendukung Kyiv dan Moskow.

Sementara itu, Eropa menyatakan dukungan terhadap Ukraina. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut klaim Rusia sebagai “tidak berdasar” dan “pengalihan perhatian yang disengaja”.

“Moskow bertujuan menggagalkan kemajuan nyata menuju perdamaian yang diupayakan Ukraina bersama mitra Baratnya,” tulis Kallas di X pada Rabu.

“Tidak seorang pun seharusnya menerima klaim tanpa dasar dari pihak agresor yang sejak awal perang secara membabi buta menargetkan infrastruktur dan warga sipil Ukraina,” tambahnya.

Lokasi yang Diklaim Menjadi Sasaran

Kediaman Putin di Valdai, yang juga dikenal sebagai “Uzhin” atau “Dolgiye Borody”, merupakan kompleks dengan pengamanan ketat di tepi Danau Valdai, sekitar 360 kilometer di utara Moskow. Keberadaan Putin saat insiden tersebut terjadi belum dapat dipastikan, meski diyakini ia tidak berada di lokasi.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa 91 drone berhasil ditembak jatuh sebelum mencapai Valdai. Sebanyak 49 drone disebut jatuh di wilayah Bryansk, sekitar 450 kilometer dari Valdai, satu drone di Smolensk, dan 41 lainnya di wilayah Novgorod yang berhutan lebat.

Kemampuan Militer Ukraina

Dari sisi teknis, Ukraina dinilai memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan sejauh itu, menurut analis militer dan keamanan Ukraina dari kelompok Information Resistance, Oleksandr Kovalenko.

Dengan jarak kediaman Valdai sekitar 650 kilometer dari perbatasan Ukraina, serangan dari titik peluncuran tertentu dinilai memungkinkan.

“Ukraina memiliki drone serangan jarak jauh dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer, serta sistem rudal yang mampu menempuh jarak tersebut, yakni rudal R-360 Neptune dan, tentu saja, rudal FP-5 Flamingo yang juga mampu menjangkau jarak itu,” kata Kovalenko.

Ia menambahkan, “Jadi secara teknis, serangan semacam itu memungkinkan.”

Minimnya Bukti di Lapangan

Namun, sejumlah pengamat menyoroti minimnya bukti yang mendukung klaim Rusia. Institute for the Study of War (ISW) menyatakan tidak menemukan bukti sumber terbuka seperti video terverifikasi, aktivitas pertahanan udara, ledakan, atau asap yang biasanya muncul dalam serangan drone berskala besar.

Berbeda dengan insiden sebelumnya, warga sipil Rusia juga tidak terlihat mengunggah rekaman ledakan atau dampak serangan ke media sosial.
Warga Valdai bahkan mengatakan kepada The Moscow Times bahwa mereka tidak mendengar tanda-tanda serangan militer pada malam kejadian.

“Tidak ada laporan sirene serangan udara di wilayah tersebut,” kata Kovalenko.

“Tidak ada penerbangan drone yang terdeteksi menuju Valdai. Memang ada serangan malam itu, tetapi bukan ke arah Valdai dan dengan jumlah drone yang jauh lebih sedikit serta lintasan yang berbeda,” ujar Kovalenko.

Ia menambahkan bahwa sistem pertahanan udara di kawasan tersebut tidak aktif dan tidak ada laporan dari warga maupun analis intelijen sumber terbuka mengenai serangan dalam skala tersebut.

ISW juga mencatat adanya ketidakkonsistenan data. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut 89 drone ditembak jatuh di Novgorod, sementara Kementerian Pertahanan Rusia menyebut jumlahnya 47.

Beberapa kanal Telegram Rusia memang menampilkan gambar asap di sejumlah wilayah, tetapi belum dapat diverifikasi secara independen.

Keraguan Internasional

Meski Kremlin awalnya menolak memberikan bukti, Kementerian Pertahanan Rusia kemudian merilis rekaman video yang diklaim menunjukkan sisa drone Ukraina jenis Chaklun-V yang membawa bahan peledak seberat enam kilogram. Namun, kementerian tidak menjelaskan bagaimana mereka memastikan target dan lokasi tujuan perangkat tersebut.

Sejumlah pihak internasional turut meragukan klaim Rusia, termasuk Duta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker, Kaja Kallas, serta seorang sumber yang dekat dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

“Tidak jelas apakah kejadian itu benar-benar terjadi,” ujar Whitaker kepada Fox Business, seraya mengatakan ingin melihat penilaian intelijen AS.

Pola Strategi Ukraina Sebelumnya

Sebagian pihak menilai Ukraina mungkin memiliki insentif untuk menargetkan lokasi simbolis bernilai tinggi, mengingat keterbatasannya dalam menandingi kekuatan militer Rusia secara langsung.

Ukraina diketahui pernah menggunakan drone yang disamarkan dan diluncurkan dari truk untuk menyerang wilayah jauh di dalam Rusia, serta memiliki rekam jejak operasi terhadap tokoh militer Rusia.

Serangan ini juga muncul beberapa hari setelah Zelensky dalam pesan Natalnya menyampaikan harapan agar Putin meninggal dunia.

Pada 2023, Rusia pernah menuduh Ukraina menyerang Kremlin dengan drone dalam upaya pembunuhan Putin. Klaim tersebut kala itu juga dibantah dan dianggap sebagai upaya Moskow untuk merekayasa eskalasi konflik.

Namun, investigasi The New York Times kemudian mengungkap bahwa badan intelijen AS meyakini dinas keamanan Ukraina berada di balik serangan tersebut, meski tidak jelas apakah Zelensky atau pejabat tinggi Ukraina lainnya mengetahui rencana tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)