Drone Iran yang dipersiapkan serang kekuatan Amerika Serikat. Foto: Press TV
Iran Hentikan Negosiasi Damai dengan AS Usai Agresi Israel di Lebanon dan Gaza
Fajar Nugraha • 2 June 2026 10:51
Teheran: Pemerintah Iran mengumumkan penghentian seluruh jalur komunikasi dan perundingan dengan Amerika Serikat (AS) kecuali jika Israel menghentikan perluasan ofensif militernya di Lebanon selatan.
Kantor berita setengah resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa keputusan ini diambil sebagai respons atas pelanggaran kesepakatan gencatan senjata oleh Israel di berbagai lini.
"Mengingat kelanjutan kejahatan rezim Zionis di Lebanon dan mempertimbangkan bahwa Lebanon adalah salah satu prasyarat gencatan senjata, serta gencatan senjata ini sekarang telah dilanggar di semua lini termasuk Lebanon, tim negosiasi Iran menghentikan pembicaraan dan pertukaran teks melalui mediator," tulis laporan Tasnim, seperti dikutip NPR, pada Selasa, 2 Juni 2026.
Pihak Iran menuntut penghentian total operasi militer yang agresif dan brutal di Jalur Gaza serta Lebanon, sekaligus mendesak penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi langsung dari pejabat tinggi Iran mengenai penangguhan pesan diplomatik yang selama ini sebagian besar diperantarai oleh pihak Pakistan tersebut.
Pengumuman dari Teheran ini muncul tidak lama setelah militer Israel memperingatkan warga di pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, yang merupakan benteng pertahanan kelompok Hizbullah sokongan Iran untuk segera mengungsi menjelang rencana serangan udara, meski serangan tersebut belum diluncurkan beberapa jam kemudian.
Menanggapi deklarasi Iran, Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social mengklaim telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta para pemimpin Hizbullah melalui perantara, dan menyatakan telah mendapatkan komitmen untuk menghentikan pertempuran yang sempat merusak gencatan senjata.
"Saya mendapat panggilan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu, dari Israel, dan tidak akan ada Pasukan yang pergi ke Beirut, dan Pasukan mana pun yang sedang dalam perjalanan, telah ditolak. Demikian pula, melalui Perwakilan yang berkedudukan tinggi, saya mendapat telepon yang sangat baik dengan Hizbullah, dan mereka sepakat bahwa semua penembakan akan berhenti, bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel, tulis Trump di platform media sosial miliknya," tulis Trump di media sosial miliknya.
Trump kemudian menambahkan bahwa pembicaraan dengan Republik Islam Iran masih terus berlanjut dengan ritme yang cepat, meski belum ada tanggapan langsung dari Teheran terkait klaim tersebut. Namun, PM Benjamin Netanyahu merilis pernyataan kontradiktif yang menegaskan bahwa militer Israel akan tetap melanjutkan operasi mereka di Lebanon selatan sesuai rencana.
"Saya berbicara malam ini dengan Presiden Trump dan mengatakan kepadanya bahwa jika Hizbullah tidak berhenti menyerang kota-kota dan warga sipil kita, Israel akan menyerang sasaran teroris di Beirut,” kata Netanyahu.
Di sisi lain, Trump menghadapi tekanan domestik yang besar untuk segera menyelesaikan kebuntuan diplomatik ini karena penutupan Selat Hormuz selama beberapa bulan terakhir telah memukul pasokan minyak dunia.
Sebelum perang antara AS-Israel melawan Iran pecah tiga bulan lalu, seperlima pasokan minyak mentah global melewati jalur strategis tersebut, namun kini lalu lintas pelayaran lumpuh total akibat aksi blokade timbal balik yang memicu lonjakan harga energi global.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump sempat menunjukkan optimisme tinggi lewat unggahannya yang menyatakan bahwa Iran sangat ingin mencapai kesepakatan yang menguntungkan bagi AS, seraya meminta publik untuk tenang karena segala sesuatunya akan berakhir baik.
Pekan lalu, AS dan Iran mengatakan bahwa mereka hampir menyepakati draf perpanjangan gencatan senjata tentatif selama 60 hari beserta kerangka kerja untuk memulai negosiasi penghentian perang, namun perjanjian tersebut masih tertahan menunggu persetujuan akhir dari Trump.
Saat ini, militer Israel telah menduduki area luas di Lebanon selatan dan menyebabkan lebih dari satu juta warga setempat mengungsi, di samping meningkatkan intensitas serangan udara di Gaza tempat gencatan senjata dideklarasikan tujuh bulan lalu. Israel berdalih serangan tersebut menargetkan milisi Hamas yang menyerang mereka pada Oktober 2023, meski pengeboman itu terus merenggut banyak nyawa warga sipil.
Ketika gencatan senjata dinyatakan Oktober lalu, pasukan Israel menguasai sekitar separuh wilayah Gaza, namun cakupan wilayah pendudukan tersebut kini meluas hingga 60 persen, bahkan Netanyahu pekan lalu mengeklaim militer Israel akan segera menguasai hingga 70 persen wilayah Gaza.
(Kelvin Yurcel)