Upacara pelepasan tiga jenazah WNI yang gugur di Lebanon. Foto: PTRI New York
Serangan Israel ke Pasukan Perdamaian Dinilai Tak Dapat Ditoleransi
Fachri Audhia Hafiez • 3 April 2026 14:34
Jakarta: Serangan rudal Israel yang menewaskan prajurit TNI di Lebanon menuai kecaman luas. Para patriot bangsa yang tergabung dalam Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) di misi UNIFIL tersebut gugur saat menjalankan tugas menjaga perdamaian dunia.
“Saya mengutuk keras pasukan Israel yang telah melakukan penyerangan terhadap pasukan perdamaian PBB,” kata Sekretaris Fraksi PAN DPR, Ahmad Najib Qodratullah dalam keterangannya kepada awak media, Jumat, 3 April 2026.
Najib juga menyampaikan duka cita atas gugurnya prajurit TNI tersebut. Dia menegaskan bahwa tindakan militer Israel yang menyasar personel PBB tidak dapat ditoleransi.
Ia mengatakan serangan itu mencederai misi kemanusiaan internasional dan menyebabkan hilangnya nyawa prajurit terbaik Indonesia. Terlebih para prajurit sejatinya sedang bertugas di bawah bendera PBB.
Jenazah para prajurit TNI, di antaranya Kapten Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Letda Satu Farizal Rhomadhon, telah mendapatkan upacara penghormatan militer di Bandara Internasional Beirut-Rafic Hariri, Lebanon, pada Kamis, 2 April 2026. Isak tangis dan rasa kehilangan menyelimuti prosesi tersebut sebelum peti jenazah diterbangkan menuju tanah air.

Sekretaris Fraksi PAN DPR, Ahmad Najib Qodratullah. Foto: Dok. Istimewa.
Kepala Misi UNIFIL dan Komandan Pasukan, Mayor Jenderal Diodato Abagnara, turut memberikan penghormatan terakhir di samping bendera Lebanon dan PBB yang berkibar setengah tiang. Ia menyatakan bahwa UNIFIL tidak hanya kehilangan peacekeeper, tetapi juga saudara-saudara seperjuangan yang berdedikasi tinggi.
Serangan ini memicu gelombang simpati dan kemarahan publik di Indonesia. Pemerintah melalui jalur diplomasi diharapkan terus mendesak pertanggungjawaban internasional atas keselamatan pasukan penjaga perdamaian yang berada di wilayah konflik tersebut agar tragedi serupa tidak terulang kembali.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com