Ilustrasi logo Vale Indonesia. Foto: dok Vale Indonesia.
Vale Siapkan Investasi USD7,2 Miliar untuk Tiga Proyek Nikel
Ade Hapsari Lestarini • 14 September 2026 20:10
Jakarta: PT Vale Indonesia Tbk menyiapkan investasi sekitar USD7,2 miliar untuk mengembangkan tiga proyek hilirisasi nikel di Morowali, Pomalaa, dan Sorowako.
Direktur Project Control IGP Vale Indonesia, Mateus Sigit Hari Sulistya, mengatakan pengembangan tersebut menandai perubahan operasi perusahaan yang sebelumnya berpusat di Sorowako.
Kini, perusahaan mulai mengembangkan platform pertumbuhan di beberapa wilayah melalui Indonesia Growth Project (IGP).
"Jadi ini merupakan satu perubahan yang cukup signifikan dari sisi PT Vale, dari single operation base menjadi multi-site platform, nanti kita akan bekerja sama dengan partner kami," ujar Mateus dalam diskusi MediaMIND 2026, Senin 14 September 2026..
Investasi setiap proyek mencakup kegiatan pertambangan dan pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL). Investasi pertambangan akan dilakukan sepenuhnya oleh Vale.
Sementara itu, fasilitas HPAL akan dikembangkan melalui perusahaan patungan bersama sejumlah mitra. Dalam kerja sama tersebut, Vale akan menjadi pemegang saham minoritas yang signifikan.

Vale siapkan investasi USD7,2 miliar untuk tiga proyek nikel. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.
Baca Juga :
Tiga proyek hilirisasi Vale
Proyek pertama adalah IGP Morowali di Sulawesi Tengah dengan nilai investasi sekitar USD1,9 miliar. Vale menggandeng GEM dan EcoPro dalam proyek tersebut. Penyelesaian mekanis tahap awal ditargetkan pada akhir 2026. Sementara penyelesaian mekanis secara penuh ditargetkan pada kuartal pertama 2027.
Proyek kedua berada di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Nilai investasinya mencapai sekitar USD3,2 miliar dengan menggandeng Huayou dan Ford. Mateus mengatakan, perkembangan proyek Pomalaa menjadi yang paling maju. Pengujian dan commissioning akan dilakukan secara bertahap sebelum fasilitas memasuki tahap operasi penuh.
Adapun proyek ketiga berada di Sorowako, Sulawesi Selatan. Vale menyiapkan investasi sekitar USD2,1 miliar dan menggandeng Huayou untuk mengembangkan fasilitas HPAL. Proyek tersebut masih berada pada tahap awal. Vale menargetkan fasilitas di Sorowako dapat beroperasi penuh sekitar 2028.
Optimalkan bijih nikel limonit
Teknologi HPAL digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP). Produk tersebut merupakan bahan antara yang dapat diolah lebih lanjut menjadi material baterai.
Menurut Mateus, teknologi HPAL membuka peluang untuk memanfaatkan bijih limonit. Sebelumnya, jenis bijih tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
"Dulu limonite ore itu boleh dibilang menjadi material yang tidak dipakai. Kemudian, dengan adanya teknologi HPAL, ini sekarang bisa membuka jalan baru. Kita meng-unlock value dari limonite ore," kata Mateus.
Vale memandang pembangunan HPAL sebagai investasi jangka panjang. Namun, perusahaan tetap perlu menjaga efisiensi biaya agar produk yang dihasilkan mampu bersaing.
Pengembangan fasilitas juga harus memperhatikan penggunaan energi, emisi, dan pengelolaan residu. Vale meminta fasilitas HPAL yang dikembangkan bersama mitra memenuhi standar internasional sejak tahap perencanaan hingga operasi.
Selain itu, kerja sama dengan mitra diharapkan dapat mendorong transfer teknologi kepada tenaga kerja Indonesia. Dengan demikian, kegiatan hilirisasi dapat meningkatkan kemampuan industri di dalam negeri. (Selsha Septifanie Gunawan)