Bangun Bursa Sendiri, Sarjito Ingin Indonesia Bisa Tentukan Harga Komoditas

Kepala Eksekutif Pengawas BMKS OJK Sarjito. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.

Bangun Bursa Sendiri, Sarjito Ingin Indonesia Bisa Tentukan Harga Komoditas

Ade Hapsari Lestarini • 9 September 2026 23:36

Jakarta: Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito menilai Indonesia perlu memiliki bursa mineral sendiri agar dapat memiliki referensi harga komoditas, termasuk nikel.

Sarjito mengatakan Indonesia merupakan salah satu penghasil nikel terbesar di dunia, tetapi belum memiliki posisi dalam menentukan harga komoditas tersebut.

"Kita itu sebagai penghasil nikel terbesar di dunia, tetapi kita tidak pernah bisa menentukan harganya, harganya ditentukan jurisdiksi lain oleh pihak-pihak lain," ujar Sarjito, usai pengucapan sumpah jabatan Kepala Eksekutif Pengawas BMKS di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu, 9 September 2026.

Menurut Sarjito, pembangunan bursa mineral juga berkaitan dengan pengawasan terhadap praktik transfer pricing dan under invoicing. Menurut dia, transaksi komoditas yang tercatat di bursa dapat menjadi salah satu acuan dalam mengawasi harga dan volume perdagangan.



Ilustrasi nikel. Foto: dok Harita Nickel.
 

 

Transaksi jadi referensi di bursa


Sarjito mengatakan transaksi yang berlangsung nantinya akan menjadi referensi di bursa. Menurut dia, keberadaan referensi transaksi dapat memperkuat transparansi perdagangan komoditas.

"At the end semua transaksi akan menjadi referensinya dalam di bursa. Anda bisa bayangkan kalau itu terjadi, maka insya Allah negara kita menjadi makmur, not only beberapa pihak tetapi adalah rakyat Indonesia," ujarnya.

Sarjito juga mengatakan keberadaan bursa diharapkan dapat mendukung penerimaan negara melalui devisa dan pajak yang masuk secara proporsional.

Ia berharap pembangunan BMKS dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian Indonesia dan masyarakat. (Tiaranissa Juliansyah)

(Ade Hapsari Lestarini)