Ilustrasi Gedung Wisma Danantara. Foto: dok Danantara.
Danantara dan Prospek Investasi Besar di Tengah Penguatan Ekonomi
Ade Hapsari Lestarini • 27 August 2026 07:04
Jakarta: Investasi Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan di tengah perlambatan ekonomi global. Realisasi investasi mencapai Rp1.931 triliun sepanjang 2025 dan Rp1.010,6 triliun pada semester I-2026. Di tengah peningkatan tersebut, kualitas investasi dan dampaknya terhadap perekonomian domestik menjadi perhatian.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan investasi tetap tumbuh di tengah perlambatan ekonomi dunia yang diproyeksikan IMF mencapai tiga persen pada 2026. Investasi juga disebut berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.
Dalam Pidato Kenegaraan pekan lalu, Presiden menyampaikan peran Danantara Indonesia tidak hanya berkaitan dengan restrukturisasi dan konsolidasi BUMN, tetapi juga diharapkan dapat mendukung penguatan investasi nasional secara bertahap dan terukur.
Peran tersebut antara lain tercermin dari 19 proyek hilirisasi yang telah melakukan groundbreaking serta proyek strategis nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
Pengamat ekonomi Universitas Negeri Padang (UNP) Doni Satria menilai investasi dapat menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi apabila diarahkan pada proyek yang memiliki kelayakan usaha, tata kelola yang baik, serta keterkaitan dengan kebutuhan pembangunan.
"Danantara bisa mendorong aktivitas ekonomi yang lebih baik di Indonesia, termasuk pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, sejauh investasinya tepat sasaran dan dikelola secara hati-hati," kata Doni, dikutip Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut dia, investasi perlu mempertimbangkan efisiensi proyek dan tingkat pengembalian, sekaligus memperhatikan kontribusinya terhadap perekonomian. Hilirisasi sumber daya alam dapat menjadi salah satu pilihan karena memiliki skala investasi dan prospek pengembalian yang besar. Namun, manfaat hilirisasi dinilai akan lebih besar apabila diikuti dengan pengembangan industri pendukung di dalam negeri.
"Kalau ada investasi besar, strateginya adalah investasi besar yang juga mendorong industri kecil," ujar dia.
Pandangan tersebut menempatkan investasi tidak hanya sebagai aktivitas penanaman modal, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperluas kapasitas produksi dan menciptakan keterkaitan antarsektor ekonomi.

Ilustrasi Gedung Danantara. Foto: dok Danantara.
Baca Juga :
Danantara berpotensi jadi anchor investor
Dari sisi dunia usaha, Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Pengembangan Energi Terbarukan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Feiral Rizky Batubara menilai Danantara dapat mengambil peran sebagai anchor investor dalam proyek berskala besar.
Peran tersebut dapat membuka ruang kolaborasi jangka panjang dengan perusahaan nasional melalui skema joint venture, co-investment, penyediaan barang dan jasa, serta keterlibatan perusahaan domestik dalam rantai pasok.
Menurut Feiral, besarnya modal yang dihimpun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan investasi. Kapasitas, skala usaha, dan daya saing perusahaan nasional juga perlu menjadi bagian dari indikator keberhasilan.
Karena itu, investasi berskala besar perlu memiliki keterkaitan dengan industri domestik sehingga menciptakan efek berganda bagi pemasok lokal, UMKM, tenaga kerja, dan industri pendukung.
"Dengan pendekatan tersebut, Danantara dapat menjadi penghubung antara modal besar dan kapasitas industri nasional. Jadi, investasi tidak hanya menghasilkan aset dan keuntungan, tetapi juga ikut menciptakan ekosistem ekonomi baru serta memperkuat fondasi industri Indonesia dalam jangka panjang," kata Feiral.
Implementasi investasi tersebut mulai terlihat melalui 19 proyek hilirisasi yang telah melakukan groundbreaking. Proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi, hingga agrikultur dengan nilai sekitar Rp225 triliun.
Selain hilirisasi, investasi juga diarahkan ke sektor energi dan pengelolaan lingkungan. Salah satunya proyek percontohan PSEL di Denpasar, Bali, yang dirancang mengolah 1.500 ton sampah per hari dengan nilai investasi Rp3 triliun. Proyek tersebut ditargetkan beroperasi pada semester I-2028 dan menjadi bagian dari target pembangunan 33 fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik hingga 2029.
Dari sisi makroekonomi, investasi tumbuh 6,87 persen pada kuartal II-2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06 persen. Sementara itu, sektor hilirisasi tumbuh 6,9 persen. Realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun dengan penyerapan 1,45 juta tenaga kerja langsung atau meningkat 15 persen.
Data tersebut menunjukkan investasi memiliki peran yang semakin besar terhadap aktivitas ekonomi. Namun, besarnya realisasi investasi perlu diikuti kemampuan proyek menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan investasi merupakan salah satu penopang perekonomian nasional. Namun, keberhasilannya tidak semata-mata diukur dari nilai realisasi.
"Angka-angka pertumbuhan ekonomi dan investasi bukanlah tujuan akhir, tapi bagaimana kita bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat. Setiap rupiah investasi harus menciptakan lapangan pekerjaan yang baik, yang berkualitas, sekaligus juga memperbaiki kualitas hidup dari masyarakat kita," ujar Rosan.
Dengan demikian, tantangan investasi Indonesia ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan nilai penanaman modal, tetapi memastikan modal yang masuk menghasilkan nilai tambah, lapangan kerja berkualitas, penguatan industri domestik, dan efek berganda yang lebih luas bagi perekonomian.