Individu orangutan yang dijumpai di Lanskap Koridor Labian-Leboyan. Antara / HO : WWFIndonesia.
Karhutla Meluas, BKSDA Kalbar Siapkan Penyelamatan dan Translokasi Orang Utan
Whisnu Mardiansyah • 1 September 2026 13:33
Pontianak: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat memperkuat perlindungan orang utan dan habitatnya di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Kepala Subbagian Tata Usaha BKSDA Kalimantan Barat Imam Setyo Hartanto mengatakan petugas terus melakukan penanganan kebakaran di lapangan sebagai bagian dari upaya melindungi satwa dilindungi dan habitatnya.
"Upaya perlindungan dan pelestarian orangutan beserta habitatnya menjadi salah satu prioritas BKSDA Kalimantan Barat. Untuk memastikan keselamatan satwa dilindungi dari dampak puncak musim kemarau dan potensi gangguan habitat, petugas di lapangan terus melakukan pemadaman di area kebakaran hutan dan lahan," kata Imam di Pontianak, seperti dilansir Antara, Selasa, 1 September 2026.
Selain penanganan kebakaran, BKSDA Kalbar menyiapkan langkah penyelamatan dan translokasi bagi orangutan yang terdampak maupun berada dalam ancaman karhutla.
Imam menjelaskan kebakaran hutan dan lahan berpotensi merusak tutupan hutan sekaligus mengancam keselamatan satwa liar. Kondisi tersebut juga dapat mempersempit ruang jelajah dan mengurangi sumber pakan orangutan.
BKSDA Kalbar sebelumnya melakukan penyelamatan orang utan dari kawasan terdampak kebakaran di Kabupaten Ketapang. Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi terhadap ancaman karhutla yang berpotensi membahayakan satwa dilindungi.
Kebakaran dan fragmentasi habitat juga dapat mendorong orang utan keluar dari kawasan hutan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan perjumpaan satwa dengan manusia.
Imam menilai upaya menjaga orang utan dan habitatnya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah tidak dapat menjalankan seluruh upaya konservasi secara sendiri.
Masyarakat adat, komunitas lokal, akademisi, dunia usaha, serta organisasi masyarakat sipil dinilai memiliki peran dalam memperkuat perlindungan orangutan dan pengelolaan habitatnya.
"Konservasi orang utan di tengah ancaman degradasi habitat dan bencana kebakaran hutan dan lahan perlu melibatkan dukungan dari berbagai pihak. Peningkatan kapasitas masyarakat adat dan komunitas lokal juga menjadi fondasi bagi keberhasilan rencana konservasi dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan," katanya.
Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah penting dalam upaya konservasi orangutan. Wilayah tersebut menjadi habitat bagi dua subspesies, yakni Pongo pygmaeus wurmbii dan Pongo pygmaeus pygmaeus.

Orang utan di Ragunan. Foto: Metro TV/Rifda Muthia Zahra
Di Kabupaten Kapuas Hulu, Pongo pygmaeus pygmaeus, yang dikenal masyarakat Dayak setempat sebagai "Mayas", tersebar di sejumlah kawasan. Habitatnya mencakup Taman Nasional Danau Sentarum, Taman Nasional Betung Kerihun, Koridor Labian-Leboyan, hingga bentang alam yang terhubung dengan Batang Ai-Lanjak Entimau di Sarawak, Malaysia.
Berdasarkan dokumen Analisis Kelangsungan Hidup Habitat dan Populasi (Population and Habitat Viability Analysis/PHVA) Orang utan 2016, populasi Pongo pygmaeus pygmaeus diperkirakan tersisa sekitar 4.520 individu. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.470 individu dilaporkan berada di Kabupaten Kapuas Hulu.
Akademisi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura (Untan) Riyandi mengatakan orangutan memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurut dia, orangutan termasuk spesies payung (umbrella species) yang membutuhkan habitat dan wilayah jelajah yang luas.
Sejalan dengan upaya tersebut, BKSDA Kalbar bersama pemerintah daerah, akademisi, dan sejumlah lembaga konservasi terus mendorong penguatan perlindungan kawasan penting bagi keberlangsungan habitat orangutan.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian ialah Koridor Labian-Leboyan. Kawasan tersebut berperan sebagai jalur penghubung habitat orang utan antara Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum.
Perlindungan habitat dan pengendalian karhutla perlu dilakukan secara bersamaan. Kebakaran dapat merusak kawasan hutan dan sumber pakan serta meningkatkan tekanan terhadap satwa liar, termasuk orangutan yang menghadapi ancaman degradasi dan fragmentasi habitat.