Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Triwulan I-2026, MBG Jadi Salah Satu Penopang

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Triwulan I-2026, MBG Jadi Salah Satu Penopang

Insi Nantika Jelita • 5 May 2026 14:22

Jakarta: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kinerja ini terutama ditopang oleh menguatnya konsumsi rumah tangga, khususnya pada sektor makanan dan minuman, seiring perluasan cakupan program MBG yang mendorong permintaan domestik di berbagai lapangan usaha.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I-2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.

Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen. Meski demikian, secara tahunan pertumbuhan ekonomi tetap menunjukkan penguatan, lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2025 yang tumbuh sebesar 4,87 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif secara tahunan, kecuali pertambangan serta pengadaan listrik dan gas. Lima sektor utama, yakni industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan, memberikan kontribusi sebesar 63,52 persen terhadap total PDB.

“Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14 persen. Yang mana hal ini didorong oleh peningkatan kinerja makanan dan minuman seiring momen libur nasional dan perluasan cakupan program MBG,” kata Amalia dalam konferensi pers, Selasa, 5 Mei 2026.



(Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Kontribusi industri pengolahan

Berdasarkan sumber pertumbuhan, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,03 persen (basis poin), diikuti perdagangan sebesar 0,82 persen, pertanian 0,55 persen, dan konstruksi 0,53 persen.

Secara lebih rinci, industri pengolahan tumbuh didorong oleh meningkatnya permintaan domestik dan luar negeri. Industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen, ditopang peningkatan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri serta naiknya produksi beras dan ekspor CPO dan CPKO.

Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik tumbuh 10,35 persen seiring meningkatnya ekspor, termasuk produk elektronik dan baterai. Sementara itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 7,41 persen karena meningkatnya produksi untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor.

Di sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor, pertumbuhan mencapai 6,26 persen (yoy), didorong oleh meningkatnya distribusi barang konsumsi, barang modal, dan bahan baku, serta naiknya aktivitas belanja masyarakat, termasuk melalui sistem perdagangan elektronik.

Sektor pertanian tumbuh 4,79 persen, didukung peningkatan produksi dan permintaan domestik. Tanaman pangan tumbuh 7,58 persen seiring panen raya padi, sementara subsektor peternakan tumbuh 11,84 persen akibat meningkatnya permintaan daging ayam ras dan telur, baik untuk kebutuhan Idulfitri maupun program MBG.

Adapun sektor konstruksi tumbuh 5,49 persen, sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur. Pertumbuhan ini didorong oleh realisasi belanja modal pemerintah, peningkatan proyek konstruksi swasta, termasuk pembangunan fasilitas pendukung program, seperti satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dan koperasi desa, serta meningkatnya pasokan bahan baku konstruksi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)