Psikolog: Konflik Keluarga Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Ini Cara Mengatasinya

Ilustrasi freepik

Psikolog: Konflik Keluarga Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Ini Cara Mengatasinya

Putri Purnama Sari • 14 July 2026 14:24

Jakarta: Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang jatuh pada 23 Juli menjadi pengingat bahwa anak membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang untuk tumbuh secara optimal.

Tak hanya asupan gizi dan pendidikan, kondisi emosional di dalam keluarga juga berperan penting dalam membentuk perkembangan otak dan kesehatan mental anak.

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie menjelaskan, dari sudut pandang bio-neuropsikologi, tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka bertumbuh.

Konflik keluarga yang terjadi terus-menerus dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan otak maupun perilaku anak.

"Dalam bio-neuropsikologi, tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh nutrisi dan pendidikan, tetapi juga oleh lingkungan emosional tempat otaknya berkembang," ujar Efnie kepada Metrotvnews.com, Selasa, 14 Juli 2026.

Konflik Keluarga Dapat Memengaruhi Perkembangan Otak Anak


Ilustrasi freepik

Efnie mengibaratkan otak anak seperti sebuah rumah yang masih dibangun. Fondasi utamanya adalah rasa aman.

Saat anak tumbuh dalam lingkungan yang hangat, penuh kasih sayang, dan mendapat dukungan emosional, otaknya lebih mudah membentuk koneksi saraf yang berperan dalam kemampuan belajar, mengelola emosi, berkonsentrasi, hingga membangun hubungan sosial.

Sebaliknya, apabila anak terus-menerus menyaksikan pertengkaran, ancaman, atau ketegangan di rumah, tubuh akan mengalami respons stres berkepanjangan (chronic stress response).

"Sistem alarm di otak, yaitu amigdala, menjadi lebih aktif, sementara prefrontal cortex yang berperan dalam berpikir, mengambil keputusan, dan mengendalikan emosi tidak dapat bekerja secara optimal," jelas Efnie.

Akibatnya, anak bisa menjadi lebih mudah marah, sulit fokus, prestasi belajar menurun, menjadi pendiam dan menarik diri dari lingkungan, atau justru menunjukkan perilaku agresif.

Menurut Efnie, kondisi tersebut bukan sekadar masalah perilaku, melainkan bentuk adaptasi otak terhadap tekanan yang berlangsung terus-menerus.

Anak Membutuhkan Ruang Aman Secara Emosional

Efnie menekankan bahwa menjaga tumbuh kembang anak di tengah konflik keluarga bukan berarti orang tua harus berpura-pura tidak memiliki masalah.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan anak tetap memiliki rasa aman dan tidak menjadi korban dari konflik yang terjadi.

"Dalam bio-neuropsikologi, anak tidak membutuhkan keluarga yang sempurna. Anak membutuhkan orang dewasa yang mampu membuatnya tetap merasa aman, dicintai, dan dihargai meskipun keluarga sedang menghadapi masalah," ungkap Efnie.

Cara Menjaga Tumbuh Kembang Anak di Tengah Konflik Keluarga

Agar kesehatan mental dan perkembangan anak tetap terjaga, Efnie membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua, antara lain:

  • Hindari melibatkan anak dalam konflik orang dewasa.
  • Jangan menjadikan anak sebagai penengah atau tempat mencurahkan masalah pasangan.
  • Berikan pemahaman bahwa konflik yang terjadi bukan kesalahan anak.
  • Tetap hadir secara emosional melalui pelukan, komunikasi yang hangat, dan rutinitas keluarga yang konsisten.
  • Jika konflik berlangsung berkepanjangan, jangan ragu mencari bantuan profesional agar dampaknya terhadap perkembangan anak tidak semakin besar.

Menurut Efnie, kehadiran orang tua yang mampu memberikan rasa aman akan membantu anak menghadapi situasi sulit dengan lebih baik.

Dukungan emosional yang konsisten juga menjadi fondasi penting agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, mampu mengelola emosi, dan berkembang sesuai potensinya.

(Putri Purnama Sari)