Seorang warga Iran berjalan di samping lukisan dinding bendera nasional Iran di sebuah jalan di Teheran, Iran.(Abedin Taherkenareh/EPA-EFE)
Mengupas Asal Usul Bangsa Iran hingga Menjadi Negara Islam
Riza Aslam Khaeron • 8 April 2026 22:02
Jakarta: Gejolak perang Iran belakangan ini telah memicu peningkatan minat masyarakat Indonesia untuk mengenal lebih jauh profil bangsa tersebut.
Rakyat Iran dapat dikatakan sebagai salah satu entitas etno-kultural yang paling unik di Timur Tengah.
Berbeda dengan mayoritas negara tetangganya, bangsa yang menyandang predikat sebagai salah satu peradaban tertua di dunia ini—serupa dengan Turki—sama sekali tidak mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari bangsa Arab.
Keunikan ini terlihat jelas dari fakta bahwa mayoritas penduduknya tidak menuturkan bahasa Arab, apalagi menetapkannya sebagai bahasa resmi negara.
Selain itu, meskipun tetap memeluk agama Islam, identitas religius mereka memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari banyak negara Muslim di kawasan itu, mengingat mayoritas rakyat Iran merupakan penganut setia Syiah Dua Belas Imam.
Lantas, bagaimana sebenarnya akar sejarah dan asal-usul dari bangsa yang unik ini? Simak penjelasannya berikut ini.
Asal-Usul Bangsa Iran

Referensi epigraf paling awal yang membuktikan kata "Arya" muncul pada prasasti Behistun abad ke-6 SM. (Wikimedia Commons)
Secara genealogis, bangsa Iran memiliki perbedaan mendasar dengan bangsa Arab yang berasal dari rumpun Semitik. Bangsa Iran sejatinya berakar dari rumpun Indo-Iran, yang merupakan cabang paling timur dari keluarga besar bahasa Indo-Eropa.
Merujuk pada jurnal penelitian Vahid Rashidvash dari Universitas Negeri Yerevan, Armenia, bahasa leluhur Indo-Eropa ini diperkirakan pertama kali muncul di sekitar wilayah selatan Pegunungan Ural. Sementara itu, melansir EBSCO, nenek moyang bangsa Iran kemungkinan besar berasal dari wilayah Asia Tengah.
Dalam rentang waktu antara 4.000 hingga 3.500 SM, sebagian penutur bahasa purba ini bermigrasi ke arah timur dan selatan Laut Kaspia, mendiami wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Iran, Pakistan, India, dan Afghanistan.
Dari pergerakan inilah cabang Indo-Iran mulai terbentuk, yang di kemudian hari terpecah lagi menjadi dua subcabang besar: kelompok bahasa Indo-Arya dan kelompok bahasa Iran.
Sekitar tahun 1000 SM, kelompok bangsa Iran kuno mulai memasuki dataran tinggi Iran dan perlahan-lahan membentuk berbagai suku besar seperti Persia Kuno, Medes, Parthia, Bactria, hingga Skit. Suku-suku dari rumpun Iran ini menggunakan "Arya" sebagai nama kolektif mereka.
Meskipun istilah tersebut di kemudian hari disalahgunakan oleh rezim Nazi Jerman, pada mulanya "Arya" mencerminkan kesadaran kolektif mereka sebagai satu kesatuan etnis yang berbagi bahasa yang berkerabat serta tradisi keagamaan yang sama.
Tradisi ini berpusat pada pemujaan terhadap Ahura Mazda, Tuhan dalam ajaran Zoroastrianisme—agama asli Iran yang sering disebut oleh umat Islam sebagai agama Majusi.
Nama "Iran" itu sendiri diserap langsung dari istilah bahasa Persia Menengah pada abad ke-3, yaitu Eran. Kata ini pada awalnya bermakna "milik bangsa Arya" atau sering kali dikonotasikan sebagai "tanah air bangsa Arya". Identitas nasional ini mencapai puncaknya pada era Kekaisaran Sassanid (226–651 M).
Penelitian Vahid menyatakan di bawah pemerintahan Sassanid, bahasa Persia Tengah ditetapkan sebagai bahasa resmi, sementara proses asimilasi antara suku Persia, Medes, Parthia, Bactria, serta penduduk asli seperti Elamit semakin memperkuat identitas nasional yang homogen.
Pada masa inilah, seluruh kelompok tersebut mulai dikenal secara kolektif sebagai "orang Iran" atau "orang Persia", tanpa lagi memandang latar belakang kesukuan maupun dialek regional mereka.
Dari Mana Asal Kata “Persia”?

Peta Negara Persia Kuno & Mesopotamia. (Microsoft Encarta via Heritage Institute)
Menurut penjelasan Vahid, bangsa Persia Kuno—salah satu suku kuno di Iran—mulai menyebut diri mereka sebagai Parsa dan menamai wilayah mereka sebagai Parsua sekitar tahun 850 SM. Secara geografis, wilayah ini mencakup area Persis atau Pars, yang secara administratif berbatasan dengan Sungai Tigris di sisi barat dan Teluk Persia di sisi selatan.
Bukti tertulis tertua mengenai kata "Parsua" sendiri ditemukan dalam prasasti bangsa Asiria yang berasal dari abad ke-9 SM.
Adapun sebutan "Persia" sebenarnya merupakan label yang diadopsi oleh dunia Barat melalui tradisi bahasa Yunani. Nama inilah yang kemudian digunakan secara resmi sebagai identitas Iran di panggung internasional selama berabad-abad.
Perubahan signifikan baru terjadi pada 21 Maret 1935, ketika penguasa Iran saat itu, Reza Shah Pahlavi, mengeluarkan dekret resmi yang meminta para diplomat asing untuk menggunakan nama "Iran", alih-alih "Persia", dalam seluruh korespondensi diplomatik.
Sejak momentum tersebut, nama "Iran" dan "Persia" sering digunakan secara bergantian, meski secara historis keduanya merujuk pada entitas bangsa dan peradaban yang satu.
| Baca Juga: Mengenal Mazhab 12 Imam, Agama Resmi Iran dan Cabang Syiah Terbesar |
Bagaimana Iran Menjadi Negara Islam?
.jpg)
Lukisan Ismail I tahun 1487-1524 oleh Cristofano dell'Altissimo. (Wikimedia Commons)
Proses masuknya Islam ke tanah Iran dimulai pada abad ke-7 Masehi, dipicu oleh penaklukan Kekaisaran Sassanid oleh bangsa Arab Muslim. Setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M, ekspansi Islam bergerak sangat masif.
Antara tahun 636 hingga 642 M, pasukan Arab berhasil menumbangkan kekuatan Sassanid dalam rangkaian pertempuran kunci, termasuk keberhasilan mereka merebut ibu kota Ctesiphon. Kekaisaran Sassanid akhirnya runtuh sepenuhnya pada tahun 651 M menyusul wafatnya sang Shah terakhir dalam pelariannya.
Kendati demikian, penyebaran Islam di tengah masyarakat Iran tidaklah terjadi secara instan. Proses Islamisasi berlangsung secara bertahap selama berabad-abad.
Pada tahap awal, masyarakat Iran masih banyak yang mempertahankan kepercayaan lama seperti Zoroastrianisme, sementara Islam baru tumbuh terbatas di kalangan elite perkotaan dan pusat-pusat kekuasaan.
Penduduk Iran baru mulai berbondong-bondong memeluk Islam dalam skala besar antara abad ke-8 hingga ke-10. Melansir Asiasociety.org, penelitian sejarah menunjukkan bahwa sekitar abad ke-9, populasi Muslim di sana diperkirakan baru mencapai 40 persen, dan baru menjadi mayoritas dominan pada abad ke-10 hingga ke-11.
Menariknya, sebelum memasuki abad ke-16, wilayah Persia sebenarnya merupakan basis pertahanan kuat bagi penganut Sunni.
Perubahan drastis terjadi ketika Dinasti Safawi bangkit di awal abad ke-16. Berawal dari sebuah tarekat sufi di Ardabil, Safawi kemudian bertransformasi menjadi kekuatan politik dan militer yang sangat berpengaruh.
Pada tahun 1501, Shah Ismail I sukses menguasai Tabriz dan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Iran. Langkah paling krusial yang ia ambil adalah menetapkan mazhab Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara.
Proses transformasi Iran menjadi negara Syiah ini tidaklah terjadi secara alami, melainkan melalui intervensi negara yang sangat masif dan terstruktur dari tingkat atas ke bawah. Rezim Safawi mendorong penyebaran ajaran Syiah di ruang publik secara sistematis.
Proses doktrinasi ini berlanjut selama beberapa generasi di bawah kepemimpinan penerus Ismail I, hingga akhirnya mazhab Syiah mengakar kuat dalam sistem pendidikan, ritual keagamaan, serta struktur birokrasi pemerintahan. Hal inilah yang pada akhirnya membentuk identitas Iran sebagai pusat utama dunia Syiah hingga masa kini.