Israel Hancurkan Terowongan Bawah Tanah Hizbullah di Lebanon Selatan

Serangan Israel di Beirut, Lebanon. Foto: Anadolu

Israel Hancurkan Terowongan Bawah Tanah Hizbullah di Lebanon Selatan

Muhammad Reyhansyah • 29 June 2026 12:03

Tel Aviv: Militer Israel mengklaim telah menghancurkan terowongan bawah tanah yang digunakan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan, meski kesepakatan keamanan antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat (AS) baru saja disepakati.

Dalam pernyataan bersama pada Minggu, 28 Juni 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan, operasi tersebut menargetkan sebuah terowongan sepanjang sekitar 200 meter di Kota Majdal Zoun, Lebanon selatan.

Menurut pemerintah Israel, terowongan itu menyimpan ratusan senjata dan peluncur roket yang digunakan Hizbullah.

Mengutip Channel News Asia, operasi tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah militer Israel mengumumkan serangan terhadap sejumlah anggota Hizbullah dan peluncur roket di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan.

Menanggapi serangan itu, Hizbullah menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata yang selama ini mereka patuhi.

Kelompok tersebut menyatakan terus memantau seluruh pelanggaran yang dilakukan Israel dan menegaskan tetap memiliki hak untuk mempertahankan wilayah serta rakyat Lebanon.

Israel Tetap Bertahan di Lebanon Selatan

Serangan terbaru terjadi di tengah penerapan kesepakatan keamanan yang dimediasi AS dan disepakati Israel serta Lebanon pada Jumat lalu.

Kesepakatan tersebut mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari sebagian wilayah Lebanon selatan, disertai pengerahan Angkatan Bersenjata Lebanon. Namun, pasukan Israel masih diizinkan tetap berada di zona keamanan yang diperluas untuk sementara waktu.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan militer Israel akan tetap mempertahankan kehadirannya di zona keamanan Lebanon selatan.

"Kami akan terus menghancurkan infrastruktur teroris, menghilangkan ancaman terhadap masyarakat di wilayah utara, dan menjaga keamanan warga Israel," kata Netanyahu.

Sementara itu, Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak kesepakatan keamanan tersebut. Ia menyebut perjanjian itu sebagai bentuk penyerahan kepada Israel dan menegaskan kelompoknya akan tetap melanjutkan perlawanan bersenjata.

Konflik di Lebanon telah menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi di tengah perang yang berlangsung bersamaan dengan konflik yang lebih luas antara Iran, Israel, dan AS.

(Fajar Nugraha)