Kereta api Matarmaja dengan Lokomotif Vintage PJKA. (TyewongX/Wikimedia Commons)
5 Kereta dari Singkatan Nama Kota di Indonesia: Matarmaja hingga Bangunkarta
Riza Aslam Khaeron • 21 September 2026 19:08
Jakarta: Setiap tahun, masyarakat Indonesia memperingati peristiwa bersejarah pengambilalihan perusahaan kereta api dari tangan kolonial Jepang oleh para pekerja kereta api Indonesia pada 28 September 1945. Momen tersebut diperingati sebagai Hari Kereta Api Nasional, yang pada Senin, 28 September 2026 mendatang sekaligus menandai HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Nama-nama kereta yang beroperasi di Nusantara memiliki asal-usul yang sangat beragam. Ada yang diambil dari nama gunung, sungai, kerajaan, tokoh bersejarah, hingga satwa dalam cerita rakyat dan mitologi.
Namun, beberapa layanan kereta api justru memiliki nama yang dibentuk dengan cara yang ringkas sekaligus unik, yakni menggabungkan atau menyingkat nama kota-kota yang dilaluinya. Berikut adalah nama-nama unik kereta api di Indonesia yang berasal dari singkatan atau gabungan nama kota:
1. KA Matarmaja
Sejarah perjalanan KA Matarmaja sudah dimulai jauh sebelum nama tersebut resmi digunakan. Pada tahun 1976, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) mengoperasikan KA Maja untuk rute Madiun–Jakarta. Selain itu, hadir pula KA Tatar sebagai kereta pengumpan (feeder) untuk koridor Madiun–Blitar.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, kedua layanan tersebut akhirnya dikembangkan menjadi satu rute perjalanan yang lebih panjang.
Pada 28 September 1983, rute kereta ini diperpanjang hingga menjangkau Kota Malang, dan nama Matarmaja mulai diperkenalkan secara resmi. Tanggal peluncuran tersebut terasa kian istimewa karena bertepatan dengan Hari Kereta Api Nasional. Hingga saat ini, KA Matarmaja tetap setia melayani penumpang kelas ekonomi untuk relasi Malang–Pasar Senen PP.
2. KA Joglosemarkerto
Nama ini secara presisi menggambarkan pola perjalanan keretanya. KA Joglosemarkerto dirancang khusus untuk menghubungkan kota-kota utama di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta melalui rute melingkar (loopline).
Salah satu keunikan utama layanan ini adalah memungkinkan penumpang untuk mengelilingi kawasan Jawa Tengah dan DIY dalam satu rangkaian perjalanan terintegrasi, dengan panjang lintasan melingkar mencapai sekitar 579 kilometer pada awal peluncurannya.
KAI resmi meluncurkan KA Joglosemarkerto pada 1 Desember 2018. Layanan ini merupakan hasil pengembangan serta penggabungan pola perjalanan KA Kamandaka dan KA Joglokerto, sehingga mobilitas masyarakat di kawasan Yogyakarta, Solo, Semarang, Purwokerto, Tegal, dan sekitarnya menjadi jauh lebih mudah dan terhubung.

Kereta Api Probowangi melintasi Stasiun Porong. (Angger Oktafrida P/Wikimedia Commons)
3. KA Tawang Jaya
Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) memasukkan Tawang Jaya ke dalam kelompok nama kereta yang diangkat dari nama daerah atau stasiun lintasan, yaitu Semarang Tawang, Cirebon Kejaksan, dan Jakarta Raya.
Secara kebahasaan, unsur yang paling menonjol dan mudah dikenali adalah kata "Tawang" yang merujuk pada Stasiun Semarang Tawang, serta kata "Jaya" yang mengacu pada Jakarta Raya. Oleh karena itu, Tawang Jaya lebih tepat dimaknai sebagai kombinasi nama wilayah penanda titik awal dan akhir perjalanannya, bukan akronim harfiah huruf-per-huruf.
KA Tawang Jaya memiliki rekam jejak sejarah yang cukup panjang di lintasan utara. Layanan ini pertama kali beroperasi pada 14 Mei 1984. Saat ini, KAI mengoperasikan KA Tawang Jaya untuk relasi Semarang Poncol–Pasar Senen PP serta KA Tawang Jaya Premium yang beroperasi dari Stasiun Semarang Tawang.
4. KA Bangunkarta
Sejarah pengoperasian kereta ini sebenarnya sudah dimulai sebelum nama Bangunkarta digunakan. Mengutip Antara, pada tahun 1985, layanan ini awalnya bernama KA Tebuireng. Nama tersebut melekat karena kereta ini banyak diandalkan oleh para santri dan keluarga yang hendak bepergian menuju atau dari Pondok Pesantren Tebuireng di Kabupaten Jombang.
Seiring perkembangan dan penataan layanan, nama Bangunkarta mulai resmi digunakan pada 1 Juli 2001.
Rutenya sempat mengalami beberapa kali penyesuaian; pada tahun 2013 perjalanan diperpanjang hingga Surabaya Gubeng, sebelum akhirnya pada tahun 2021 KAI mengembalikan titik awal keberangkatannya ke Jombang. Penyesuaian ini membuat nama Bangunkarta kembali selaras dengan akronim kota-kota pembentuknya untuk relasi Jombang–Pasar Senen PP.
Baca Juga :
17 Kereta Api yang Dinamai dari Kerajaan dan Tokoh Sejarah Indonesia
5. KA Probowangi
Nama KA Probowangi terbentuk dari gabungan dua nama daerah di Jawa Timur, yakni Probolinggo dan Banyuwangi.Penamaan ini berkaitan erat dengan sejarah rute perdananya. Pada awal dioperasikan, KA Probowangi melayani koridor perjalanan antara Probolinggo dan Banyuwangi, sehingga nama kedua daerah tersebut dipadukan menjadi identitas resmi kereta.
Pada tahun 2014, KAI memperpanjang rute perjalanan kereta ini hingga menjangkau Kota Surabaya. Meskipun titik awal dan akhir perjalanannya kini telah berubah menjadi relasi Surabaya Gubeng–Ketapang (Banyuwangi) PP, nama Probowangi tetap dipertahankan hingga saat ini sebagai identitas historis layanan tersebut.
Melalui nama-nama seperti Matarmaja, Joglosemarkerto, Tawang Jaya, Bangunkarta, dan Probowangi, kita dapat melihat kreativitas dalam memberikan identitas bagi moda transportasi perkeretaapian di Indonesia.
Alih-alih mengadopsi nama tokoh atau tempat bersejarah, nama-nama kereta ini dirangkai secara unik dari nama-nama kota yang saling terhubung oleh alur rel kereta api.