Menlu Sugiono: Ketahanan Nasional Kunci Hadapi Risiko Perubahan Iklim

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional untuk atasi perubahan iklim. Foto: Kemlu RI

Menlu Sugiono: Ketahanan Nasional Kunci Hadapi Risiko Perubahan Iklim

Muhammad Reyhansyah • 24 September 2026 18:09

New York: Menteri Luar Negeri RI Sugiono menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional untuk menghadapi risiko perubahan iklim dan degradasi ekosistem. 

Hal tersebut disampaikan dalam forum Climate Security Dialogue di sela-sela High-level Week Sidang Majelis Umum (SMU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Rabu, 23 September 2026.

Indonesia memandang keamanan iklim atau climate security tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan. 

Isu tersebut juga menyangkut kemampuan negara dalam melindungi masyarakat, menjaga mata pencaharian dan aktivitas ekonomi, serta mempertahankan stabilitas ketika menghadapi berbagai guncangan.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi risiko dampak perubahan iklim secara langsung. Karena itu, upaya adaptasi dinilai tidak dapat lagi ditempatkan sebagai agenda untuk masa mendatang.

“Penguatan adaptasi perlu dilakukan dengan membangun ketahanan lintas sektor, termasuk pangan, air, dan energi,” ujar Menlu Sugiono, dikutip dari keterangan resmi Kementerian Luar Negeri RI, Kamis, 24 September 2026.

Pendekatan tersebut tercermin dalam Second Nationally Determined Contribution Indonesia yang menempatkan ketahanan pangan, air, dan energi, serta transisi energi sebagai bagian penting dari respons nasional terhadap perubahan iklim.

Dukungan bagi Negara Berkembang

Indonesia juga menilai upaya menghadapi perubahan iklim membutuhkan dukungan kolektif. Sugiono menekankan pentingnya penguatan risk assessment dan kesiapsiagaan, terutama bagi negara-negara berkembang.

Menurut Indonesia, upaya tersebut perlu ditopang akses terhadap pendanaan konsesional, teknologi, peningkatan kapasitas, dan investasi. Dukungan tersebut diperlukan agar negara berkembang dapat merespons berbagai risiko iklim secara lebih efektif.

Dalam konteks kerja sama climate security, Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat kerangka multilateral yang telah ada dan tetap mendukung prioritas nasional. Mobilisasi sumber daya dinilai diperlukan untuk menerjemahkan komitmen yang telah disepakati menjadi aksi nyata.

Climate Security Dialogue diselenggarakan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband bersama Menteri Luar Negeri Kenya dan High Representative Uni Eropa sebagai co-hosts. 

Forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus membahas langkah praktis dalam memperkuat risk assessment, kesiapsiagaan, dan aksi bersama menghadapi risiko perubahan iklim serta degradasi ekosistem.

(Fajar Nugraha)