Pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. (Anadolu Agency)
Nobel Perdamaian 2025 Diduga Picu Hilangnya Dukungan Trump untuk Machado
Muhammad Reyhansyah • 6 January 2026 09:38
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mengambil jarak dari María Corina Machado, setelah pemimpin oposisi Venezuela itu menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2025. Sikap tersebut muncul di tengah dinamika politik pascaintervensi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Informasi itu diungkapkan sumber-sumber dekat Gedung Putih kepada The Washington Post. Dua pejabat yang memiliki akses ke lingkaran internal Trump mengatakan keputusan Machado menerima Nobel Perdamaian dipandang sebagai “kesalahan serius” oleh presiden AS, sehingga dukungan politik Washington terhadapnya meredup.
Menurut salah satu pejabat, Trump menilai penghargaan tersebut seharusnya ditolak demi menjaga kesetiaan politik. Pejabat itu bahkan menyebutkan bahwa jika Machado menolak Nobel Perdamaian demi Trump, “dia akan menjadi presiden Venezuela hari ini.”
Mengutip Anadolu Agency, Selasa, 6 Janarui 2026, Machado sebelumnya mendedikasikan Nobel Perdamaian itu kepada Trump pada Oktober 2025. Ia memuji dukungan tegas Trump terhadap gerakan oposisi Venezuela serta perannya dalam meningkatkan tekanan internasional terhadap pemerintahan Maduro.
Namun, ketika ditanya mengenai peluang Machado memimpin Venezuela, Trump menyampaikan penilaian bernada meremehkan. “Akan sangat sulit baginya untuk menjadi pemimpin. Dia tidak memiliki dukungan di dalam negeri atau rasa hormat dari dalam negeri. Dia perempuan yang sangat baik, tetapi dia tidak memiliki rasa hormat,” kata Trump.
Komite Nobel menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian 2025 kepada Machado atas upayanya membela hak-hak demokratis dan mendorong transisi damai dari pemerintahan otoriter menuju demokrasi di Venezuela.
Terlepas dari laporan media AS yang mengaitkan perubahan sikap Trump dengan keputusan Nobel tersebut, kebijakan Washington terhadap Venezuela dinilai tetap berfokus pada pengelolaan transisi politik yang terkendali, bukan dukungan penuh kepada satu figur oposisi tertentu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam pengarahan terbaru di Departemen Luar Negeri, menyatakan keterlibatan Amerika Serikat bertumpu pada pengelolaan kebijakan, bukan penguasaan langsung pemerintahan Venezuela. Ia menekankan pentingnya merespons realitas di lapangan, termasuk berinteraksi dengan otoritas sementara yang dinilai sejalan dengan kepentingan AS.
Biro Urusan Belahan Barat Departemen Luar Negeri AS disebut memprioritaskan kemitraan yang dapat diprediksi dengan unsur-unsur politik dan militer Venezuela yang dinilai mampu memfasilitasi proses peralihan kekuasaan secara tertib.
Pendekatan ini dipilih ketimbang bergantung sepenuhnya pada tokoh oposisi yang tingkat dukungan domestiknya masih diperdebatkan dalam lanskap politik pascaintervensi.
Baca juga: Trump Klaim Maria Machado Butuh Dukungannya untuk Menang di Venezuela