Asap dari serangan udara di Teheran, Iran. (Anadolu Agency)
Ledakan Guncang Ibu Kota Iran, AS Peringatkan Operasi Pengeboman Terbesar
Willy Haryono • 7 March 2026 14:22
Teheran: Ledakan besar mengguncang ibu kota Iran pada Sabtu dini hari ketika Israel melancarkan gelombang serangan baru terhadap sejumlah target di Teheran.
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal ke wilayah Israel di tengah meningkatnya eskalasi konflik yang telah berlangsung selama sepekan.
Dikutip dari Euronews, Sabtu, 7 Maret 2026, rekaman video memperlihatkan kilatan ledakan dan kepulan asap hitam membumbung di wilayah barat Teheran. Militer Israel menyatakan telah memulai rangkaian serangan luas terhadap berbagai sasaran di ibu kota Iran.
Pada waktu yang hampir bersamaan, suara dentuman keras terdengar di Yerusalem. Rudal yang diluncurkan dari Iran memicu sirene peringatan di berbagai kota di Israel, memaksa warga bergegas menuju tempat perlindungan bom.
Ketegangan juga meluas ke negara-negara Teluk. Sirene serangan udara terdengar di Bahrain setelah Iran menargetkan kerajaan pulau tersebut dengan serangan rudal.
Arab Saudi juga melaporkan berhasil mencegat sejumlah ancaman udara. Riyadh menyatakan telah menembak jatuh drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah serta menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan menuju Pangkalan Udara Prince Sultan yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat.
Sejak konflik dimulai, Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan intensif terhadap Iran yang menargetkan kemampuan militer, struktur kepemimpinan, serta program nuklir negara tersebut.
Namun tujuan dan garis waktu operasi militer tersebut disebut beberapa kali berubah. Pada sejumlah kesempatan, pejabat Amerika Serikat mengisyaratkan bahwa perang ini tidak hanya bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran, tetapi juga membuka kemungkinan perubahan kepemimpinan di Teheran.
Kampanye Bom Terbesar
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan dalam sebuah wawancara televisi bahwa operasi pengeboman terbesar dalam konflik ini kemungkinan masih akan terjadi.Ia menyebut operasi militer terhadap Iran belum mencapai puncaknya, sementara Israel mengklaim telah menghantam bunker bawah tanah luas yang disiapkan para pemimpin Iran untuk menghadapi perang.
Sejauh ini belum ada tanda-tanda konflik akan segera berakhir. Pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan menyetujui penjualan senjata baru senilai USD151 juta kepada Israel.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi dengan Iran kecuali jika Teheran menerima “penyerahan tanpa syarat.”
Dalam unggahan di media sosial, Trump menulis bahwa setelah Iran menyerah dan memilih pemimpin baru yang “dapat diterima,” Amerika Serikat dan sekutunya akan membantu membangun kembali ekonomi negara tersebut.
Pernyataan tersebut memicu pertanyaan baru mengenai tujuan akhir perang yang kini telah menewaskan sedikitnya 1.230 orang di Iran, lebih dari 200 orang di Lebanon, sekitar selusin orang di Israel, serta enam personel militer Amerika Serikat.
Transisi Kepemimpinan Iran
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan melalui media sosial bahwa sejumlah negara telah mulai melakukan upaya mediasi, meskipun ia tidak merinci negara mana yang terlibat.Sementara itu, perdebatan mengenai suksesi kepemimpinan di Iran terus berkembang setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan awal konflik.
Trump bahkan menyatakan dirinya seharusnya ikut terlibat dalam proses pemilihan pengganti Khamenei, dan menyebut putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang disebut sebagai kandidat kuat, sebagai sosok “ringan.”
Pernyataan tersebut dikecam keras oleh duta besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani yang menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah membiarkan kekuatan asing mencampuri urusan dalam negeri negaranya.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebuah dewan kepemimpinan sementara telah mulai membahas cara menggelar pertemuan Majelis Ahli, lembaga yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Baca juga: Kapal Induk Terbesar AS Tiba di Laut Merah usai Lewati Terusan Suez