AS dilaporkan menyiapkan deportasi pengungsi Afghanistan dari Qatar ke Pakistan. (Anadolu Agency)
AS Bersiap Deportasi Pengungsi Afghanistan ke Pakistan, Aktivis HAM Khawatir
Willy Haryono • 31 October 2026 18:33
Washington: Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan deportasi pengungsi Afghanistan ke Pakistan paling cepat pada Senin. Rencana tersebut menuai kekhawatiran karena mereka berisiko dipulangkan ke Afghanistan yang kini berada di bawah kekuasaan Taliban.
Rencana penerbangan deportasi itu belum diumumkan secara resmi kepada publik. Namun, kelompok pembela hak asasi manusia dan keluarga para pengungsi yang ditahan mengatakan penerbangan tersebut kemungkinan berlangsung dalam beberapa hari mendatang, menurut laporan NBC News pada Jumat.
Rencana tersebut muncul di tengah ketidakpastian nasib pengungsi Afghanistan yang ditempatkan di Camp As Sayliyah, Qatar. Pemerintah AS berulang kali memperpanjang tenggat waktu pemindahan para penghuni fasilitas tersebut.
Departemen Luar Negeri AS awalnya mengumumkan bahwa seluruh penghuni akan dipindahkan dari fasilitas itu paling lambat 31 Maret. Namun, tenggat tersebut kemudian diperpanjang hingga 30 September.
Pada September, pemerintahan Trump kembali menunda penutupan kamp selama sembilan bulan, menurut laporan tersebut.
Awal tahun ini, pemerintah AS juga sempat mempertimbangkan pemindahan pengungsi Afghanistan dari Camp As Sayliyah ke Republik Demokratik Kongo, yang saat itu dilaporkan mengalami wabah Ebola.
Kemungkinan deportasi ke Pakistan memicu kekhawatiran kelompok pembela hak asasi manusia dan keluarga para pengungsi mengenai keselamatan mereka. Mereka juga khawatir para pengungsi pada akhirnya akan dipulangkan ke Afghanistan.
Kekhawatiran Nasib Pengungsi Afghanistan
Organisasi AfghanEvac, yang mengadvokasi pengungsi Afghanistan, mengecam rencana deportasi yang dilaporkan tersebut melalui sebuah pernyataan pada Jumat.Kelompok itu menuduh pemerintahan Trump menyiapkan penerbangan deportasi ketika perhatian publik tertuju pada pemilihan paruh waktu AS yang akan datang.
Mereka menilai pemerintah berharap rencana tersebut tidak mendapat perhatian publik.
"Pemerintah tidak akan mengatakan ke mana penerbangan-penerbangan ini akan mendarat karena mereka tahu apa yang akan terjadi terhadap orang-orang di dalamnya setelah tiba," demikian pernyataan AfghanEvac, seperti dikutip media tersebut.
"Pemerintah yang yakin dengan apa yang dilakukannya tidak akan menyembunyikannya," tambah organisasi itu.
Rencana penerbangan tersebut muncul setelah berbulan-bulan ketidakpastian mengenai masa depan pengungsi Afghanistan di fasilitas Qatar. Pemerintahan Trump masih mempertimbangkan berbagai pengaturan untuk memindahkan mereka.
Hingga kini, tujuan dan jadwal penerbangan deportasi yang diusulkan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.
Baca juga: PBB: 19,2 Juta Warga Afghanistan Terancam Kelaparan Akut di Musim Dingin