Wamendikdasmen: Pendidikan Karakter Anak Tak Bisa Dibebankan 100% ke Sekolah

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza. Metrotvnews.com/Azri

Wamendikdasmen: Pendidikan Karakter Anak Tak Bisa Dibebankan 100% ke Sekolah

Achmad Zulfikar Fazli • 29 October 2026 18:58

Jakarta: Pembentukan karakter anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Pendidikan karakter membutuhkan keterlibatan orang tua, keluarga, guru, masyarakat, hingga lingkungan media.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza mengatakan proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga terbentuk melalui interaksi anak dengan lingkungan sehari-hari. Oleh karena itu, keluarga berperan penting membangun karakter anak, terutama melalui keteladanan orang tua di rumah.

“Tidak bisa pembentukan karakter itu dibebankan 100 persen ke sekolah,” kata Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza dalam kegiatan Indonesia Youth Summit di Jakarta Pusat, Kamis, 29 Oktober 2026.

Menurut Fajar, orang tua kerap menganggap tanggung jawab pendidikan sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Padahal, perilaku yang dilihat anak di rumah memengaruhi cara mereka bertindak dan membentuk kebiasaan.

“Itu problemnya hari ini, Mas, orang tua merasa sudah melepaskan tanggung jawab itu ke sekolah, apalagi sudah bayar mahal. Sudah saya serahkan ke gurunya,” ujar Fajar.

Ilustrasi anak sekolah. ANTARA/Luthfia Miranda Putri


Fajar mengatakan keteladanan orang tua menjadi faktor penting karena anak cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Proses pembentukan karakter juga membutuhkan pembiasaan yang berlangsung secara berkelanjutan, termasuk ketika anak berpindah dari satu jenjang pendidikan ke jenjang berikutnya.

“Maka keteladanan orang tua di rumah itu mutlak,” kata Fajar.

Fajar menjelaskan guru tetap berperan penting dalam memberikan teladan, sedangkan kepala sekolah berperan dalam kepemimpinan di lingkungan pendidikan. Namun, keberhasilan pembentukan karakter membutuhkan ekosistem yang sehat dan konsisten, bukan hanya kegiatan pembelajaran di ruang kelas.

“Tanggung jawab proses pendidikan itu tanggung jawab multiaktor, bukan hanya sekolah,” tegas Fajar.

Fajar menekankan karakter tidak cukup diajarkan melalui hafalan, melainkan harus dialami dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga dan lingkungan masyarakat diperlukan agar nilai-nilai yang dipelajari anak dapat menjadi kebiasaan.

(Metrotvnews.com/M. Azri Arifin)

(Achmad Zulfikar Fazli)