NASA Buka Peluang Rusia dan Tiongkok Bergabung dalam Misi Artemis Accords

Wakil Administrator NASA Matt Anderson saat berbicara di Antalya, Turki, 7 Oktober 2026. (Anadolu Agency)

NASA Buka Peluang Rusia dan Tiongkok Bergabung dalam Misi Artemis Accords

Willy Haryono • 7 October 2026 21:03

Antalya: Rusia dan Tiongkok suatu hari dapat bergabung dalam misi eksplorasi luar angkasa di bawah kesepakatan Artemis Accords yang dipimpin Amerika Serikat (AS) jika keduanya memiliki kesamaan pandangan mengenai prinsip-prinsip kesepakatan tersebut, ujar Wakil Administrator NASA Matt Anderson.

Namun hingga saat ini, menurut Anderson, Rusia dan Tiongkok sama-sama belum memiliki kesamaan pandangan tersebut.

“Jika suatu hari Rusia dan Tiongkok memiliki kesamaan pandangan terhadap prinsip-prinsip tersebut, yang saat ini tidak kami lihat, maka ada kemungkinan untuk bergabung dengan Artemis Accords,” ucap Anderson kepada wartawan dalam International Astronautical Congress di Antalya, Turki.

Mengutip dari Anadolu Agency, Rabu, 7 Oktober 2026, Anderson mengatakan 76 negara yang telah menandatangani Artemis Accords memiliki “ikatan bersama” yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip yang disepakati untuk memastikan aktivitas luar angkasa berlangsung aman, transparan, dan bertanggung jawab.

Sebaliknya, Moskow dan Beijing memimpin upaya tandingan melalui International Lunar Research Station, yang merencanakan pembangunan pangkalan penelitian bersama di Bulan.

Sejumlah negara tergabung dalam kedua kelompok tersebut. Beberapa institusi akademik dari negara penandatangan Artemis Accords juga bekerja sama dengan proyek yang dipimpin Tiongkok.

Ketika ditanya apakah kondisi tersebut menjadi perhatian, Anderson mengatakan setiap negara berdaulat bebas menentukan pilihannya.

“Apa yang dilakukan negara-negara berdaulat adalah urusan mereka,” katanya. Menurut Anderson, penandatanganan Artemis Accords tidak menghalangi negara-negara untuk mengejar kepentingan nasional masing-masing.

Anderson menyampaikan pernyataan tersebut sehari setelah memimpin bersama pertemuan tertutup anggota Artemis Accords dengan Mayor Jenderal Roberto Melgar Sheen, Direktur Badan Antariksa Peru, CONIDA. Anderson mengatakan sedikitnya 40 negara menghadiri pertemuan tersebut.

Melgar Sheen mengatakan para peserta mencapai kesepakatan mengenai persoalan sampah antariksa. Mereka juga membahas sampah yang berada di permukaan Bulan.

“Langkah pertama untuk menghentikan sampah antariksa, atau mengatasi sampah antariksa, adalah berhenti menciptakannya,” kata Anderson.

Senjata di Ruang Angkasa

Ketika ditanya mengenai kekhawatiran terkait senjata di ruang angkasa, Anderson mengatakan Artemis Accords mencakup aktivitas ruang angkasa sipil. Menurutnya, persoalan militer menjadi kewenangan lembaga keamanan nasional masing-masing negara.

“Bagi kami di Amerika Serikat, itu adalah United States Space Force dan United States Space Command. Apa yang menjadi fokus Artemis Accords adalah sektor ruang angkasa sipil,” katanya.

“Tidak ada yang menginginkan pertempuran kinetik di ruang angkasa. Kami berfokus pada eksplorasi damai.”

Anderson juga mengatakan mahasiswa dari negara-negara anggota akan dapat mengikuti pendidikan di US Space Academy, universitas sipil baru dengan masa pendidikan empat tahun.

Presiden AS Donald Trump memerintahkan pembentukan akademi tersebut pada Agustus. Anderson mengatakan mahasiswa pertama diperkirakan mulai belajar pada musim panas 2028.

Ia mengatakan negara-negara anggota juga tertarik berkontribusi dalam rencana NASA membangun pangkalan di Bulan. Kontribusi tersebut dapat berupa satelit kecil yang dikenal sebagai CubeSats hingga insinyur yang bergabung dalam tim industri AS untuk membangun pendarat dan kendaraan penjelajah.

Jerman akan menjadi tuan rumah lokakarya tahunan Artemis Accords berikutnya pada 2027, kata Anderson.

Artemis Accords

Melgar Sheen mengatakan lokakarya tahun ini di Lima, Peru, yang merupakan penyelenggaraan pertama di Amerika Latin, menggunakan simulasi dan latihan meja untuk menguji prinsip-prinsip seperti noninterferensi, interoperabilitas, dan berbagi data.

Ia mengatakan Peru berharap dapat berpartisipasi dalam misi Bulan mendatang, kemungkinan bersama negara-negara Amerika Latin lainnya.

“Kami sangat meyakini bahwa masa depan eksplorasi Bulan dan ruang angkasa jauh harus dipandu oleh transparansi, keberlanjutan, interoperabilitas, dan inklusivitas,” kata Melgar Sheen.

Artemis Accords diluncurkan pada 2020 oleh AS dan tujuh negara lainnya. Kesepakatan tersebut merupakan seperangkat prinsip yang tidak mengikat secara hukum untuk eksplorasi damai Bulan, Mars, dan wilayah di luar keduanya.

Kesepakatan tersebut didasarkan pada Outer Space Treaty 1967. Turki telah menandatangani Artemis Accords pada Agustus.

Artemis Accords berkaitan dengan program Artemis NASA. Misi Artemis II membawa astronaut mengelilingi Bulan pada April, menjadi penerbangan berawak ke Bulan pertama dalam lebih dari 50 tahun.

Baca juga: AS Klaim Telah Kerahkan Senjata Militer ke Orbit Luar Angkasa

(Willy Haryono)