Ilustrasi: U.S. Space Force via Wikimedia Commons
AS Klaim Telah Kerahkan Senjata Militer ke Orbit Luar Angkasa
Riza Aslam Khaeron • 15 September 2026 18:05
Washington DC: Amerika Serikat (AS) mengklaim telah mengerahkan senjata di luar angkasa yang mereka sebut akan digunakan untuk membela pasukan AS, berdasarkan pernyataan Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink pada Senin, 14 September 2026.
Ini merupakan pengakuan publik pertama atas kemampuan militer tersebut di orbit sekaligus sinyal resmi kepada pihak-pihak yang dinilai berpotensi menimbulkan ancaman di domain tersebut, sebagaimana dikutip dari CNN.
"Hari ini kami terus memastikan diri tetap siap menghadapi tantangan dari ancaman yang terus berkembang di mana pun berada," kata Meink dalam Konferensi Udara, Luar Angkasa, dan Siber (Air, Space and Cyber Conference), pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Angkatan Udara & Luar Angkasa di National Harbor, Maryland.
"Inilah alasan Amerika Serikat kini memiliki senjata kendali luar angkasa di orbit yang mampu membela pasukan gabungan dari tindakan musuh yang berbahaya," tambahnya.
Meink tidak memberikan rincian teknis mengenai senjata tersebut dan menolak memberikan rincian tambahan saat diminta penjelasan lebih lanjut. Waktu penempatan senjata tersebut di orbit juga belum diketahui.
Bersaing dengan Tiongkok dan rusia

Tentara US Space Force. (Dok. U.S. Space Force)
Presiden Donald Trump sebelumnya telah mempromosikan US Space Force (Angkatan Luar Angkasa AS), yang dibentuk pada tahun 2019 sebagai bagian dari Angkatan Udara, sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemampuan pertahanan AS di tengah perlombaan senjata yang kian maju, terutama saat Tiongkok dan Rusia terus menantang dominasi luar angkasa Amerika.
"Tiongkok mengembangkan dan mengoperasikan kemampuan luar angkasa dan kontra-luar angkasa sebagai bagian dari strategi modernisasi militer," demikian pernyataan US Space Force di situs resminya. Sementara itu, "Rusia menganggap luar angkasa sebagai domain pertempuran dan meyakini bahwa keunggulan di luar angkasa akan menjadi faktor penentu dalam konflik masa depan."
Pejabat militer AS berulang kali memperingatkan bahwa kedua negara tersebut sedang menguji kemampuan luar angkasa ofensif baru.
Contohnya termasuk misi latihan konstelasi satelit Rusia yang menurut Washington dapat menampilkan "taktik serang dan bertahan" untuk pertempuran masa depan, serta pengembangan rudal hipersonik orbit parsial berkapasitas nuklir oleh Tiongkok.
Mengutip CNN, pada tahun 2024, intelijen AS mengklaim bahwa Rusia juga berupaya mengembangkan senjata nuklir berbasis luar angkasa. Senjata ini dirancang untuk memancarkan gelombang energi besar atau pulsa elektromagnetik (electromagnetic pulse) yang berpotensi melumpuhkan sebagian besar satelit komersial dan pemerintah, klaim yang dibantah oleh Moskow.
Senjata semacam itu dilaporkan memiliki kemampuan untuk menganggu fungsi satelit pemantau cuaca dan tanggap bencana, hingga memengaruhi sistem navigasi global yang digunakan untuk transaksi perbankan, pengiriman kargo, serta layanan transportasi dan darurat.
"Sangat penting bagi kita untuk mempertahankan dominasi tidak hanya di udara, tetapi juga di luar angkasa. Oleh karena itu, kita harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa ketika kita diancam, kita dapat mengatasinya," tegas Meink.
Proyek Golden Dome Trump
Perjanjian Luar Angkasa (Outer Space Treaty) tahun 1967 melarang penempatan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal di orbit, tetapi tidak melarang penggunaan senjata konvensional di luar angkasa maupun penggunaan senjata berbasis darat terhadap aset di luar angkasa.Pada Desember lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan superioritas AS di luar angkasa sebagai "tolok ukur visi dan tekad nasional," dengan fokus pada pengembangan teknologi pertahanan rudal generasi berikutnya serta memastikan kemampuan untuk menangkis ancaman, termasuk "penempatan senjata nuklir jenis apa pun di luar angkasa."
Perintah eksekutif ini menjadi bagian dari rencana sistem pertahanan rudal "Golden Dome" yang diusulkan Trump, sebuah proyek bernilai miliaran dolar yang terinspirasi dari Iron Dome Israel dan dirancang untuk mencegat rudal dari wilayah mana pun di dunia.
Pemerintah AS belum merinci rencana teknis pengembangan perisai rudal tersebut, yang ditargetkan Trump selesai pada tahun 2028. Mengutip CNN, Pentagon dijadwalkan menggelar uji coba besar pertamanya tepat sebelum pemilihan umum tahun 2028, menurut dua sumber yang mengetahui hal tersebut.
Berbicara pada Senin, 14 September 2026, Meink juga menyampaikan bahwa program pencegat berbasis luar angkasa AS telah berkembang "dari kontrak awal hingga perangkat keras siap terbang dalam waktu kurang dari satu tahun," tanpa memberikan detail tambahan.