Setara Institute Apresiasi Kepemimpinan Baru Polri dengan Narasi Polisi Bersama Masyarakat

Ketua Dewan Nasional Setara Institute Hendardi. Foto: Metrotvnews.com/Duta Airlangga

Setara Institute Apresiasi Kepemimpinan Baru Polri dengan Narasi Polisi Bersama Masyarakat

Muhammad Adyatma Damardjati • 8 October 2026 16:08

Jakarta: Ketua Dewan Nasional Setara Institute Hendardi mengapresiasi ijtihad politik kepemimpinan baru Polri di bawah Kapolri Suyudi Ario Seto dan Wakapolri Komjen Wahyu Adiningrat.

Menurutnya, narasi "Polisi Bersama Masyarakat" merupakan keberanian luar biasa. Hal itu disampaikan Hendardi dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.

Bagi Hendardi, langkah itu mengembalikan khitah Polri sebagai pengawal nilai-nilai sipil.

"Di bawah kepemimpinan yang baru, Pak Suyudi dan Pak Wahyu ini, saya kira mereka melakukan ijtihad politik yang cukup baik dengan menyatakan tagar atau narasi dalam tagar itu adalah polisi bersama masyarakat," ujar Hendardi.

Hendardi menilai narasi tersebut menempatkan Polri sejajar dengan masyarakat. Menurutnya, tugas polisi adalah melindungi dan mengayomi masyarakat.

"Itu satu keberanian yang luar biasa untuk menempatkan dirinya bersama masyarakat. Polisi itu the guardian of civilian value, pengawal nilai-nilai sipil. Melindungi, mengayomi masyarakat itu tugas paling depan dari polisi," jelas Hendardi.

Namun, Hendardi memperingatkan stabilitas keamanan Polri tidak berdiri di ruang hampa. Menurutnya, ada faktor politik luar yang mempengaruhi, termasuk interupsi militer.

"Kita bicara soal stabilitas keamanan polisi ini jangan naif, kita tidak lepas dari berbagai unsur luar, unsur politik luar yang mempengaruhi. Katakanlah misalnya interupsi militer, multifungsi militer juga untuk ikut di dalam berbagai persoalan keamanan," tegas Hendardi.

Hendardi menilai tantangan itu tidak mudah dihadapi Polri. Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian dari dinamika yang harus dikelola.

"Itu bagian dari dinamika yang memang polisi menghadapi, yang itu tidak mudah menghadapi hal tersebut," ujar Hendardi.

Terkait agenda Presiden Prabowo yang mengumpulkan 800 Perwira Tinggi TNI-Polri, Hendardi memandangnya sebagai pengarahan umum. Menurutnya, hal itu lumrah bagi kepemimpinan baru.

"Saya belum tahu hasilnya, tapi itu kan satu pengarahan umum yang biasa dilakukan oleh presiden. Paling tidak di polisi ada kepemimpinan baru yang memang perlu pengarahan," tutup Hendardi.

(Fajar Nugraha)