Luiz Inácio Lula da Silva kembali terpilih sebagai Presiden Brasil. Foto: EFE-EPA
Lula da Silva Kembali Jabat Presiden Brasil usai Kalahkan Flavio Bolsonaro di Pilpres
Fajar Nugraha • 26 October 2026 07:41
Brasilia: Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, terpilih kembali pada Minggu 25 Oktober 2026 waktu setempat berdasarkan hasil penghitungan awal resmi.
Hasil ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi gerakan konservatif yang tengah merambah kursi kepresidenan di Amerika Latin, sebuah gerakan yang sempat didukung oleh Presiden Trump.
Lula berhasil menangkis tantangan dari Flávio Bolsonaro, putra dari mantan presiden yang empat tahun lalu sempat berupaya melakukan kudeta. Situasi sempat menegang ketika seorang hakim di pengadilan pemilu Brasil memerintahkan agar tempat pemungutan suara tetap dibuka dua jam lebih lama akibat kendala transportasi dan cuaca buruk.
Akhir proses pemungutan suara yang kacau ini memicu kekhawatiran akan adanya sengketa hasil pemilu. Bolsonaro mengeklaim bahwa banjir di wilayah yang menjadi basis suaranya akan merugikannya secara tidak adil, sementara Lula menuduh para pejabat publik sengaja memperlambat layanan transportasi umum di wilayah-wilayah yang memenangkannya pada putaran sebelumnya.
Seperti dilansir The New York Times, Senin 26 Oktober 2026, Lula, yang kini berusia 80 tahun, memosisikan pencalonannya sebagai suara untuk demokrasi sekaligus satu-satunya cara untuk mencegah kembalinya keluarga Bolsonaro ke tampuk kekuasaan. Ia kerap berselisih secara terbuka dengan Trump, yang sempat berupaya menggunakan kebijakan tarif dan sanksi untuk mencegah Jair Bolsonaro, ayah dari Flávio masuk penjara.
Kemenangan Lula ini memutus rentetan tujuh kemenangan berturut-turut bagi para pemimpin sayap kanan di kawasan tersebut selama 18 bulan terakhir, sekaligus menunjukkan bahwa kekuatan politik kiri di Amerika Latin masih memiliki pengaruh, terlepas dari berbagai kekalahan yang mereka alami sebelumnya.
Di balik kontestasi ini, terdapat pergulatan politik besar yang telah mengguncang dan mendefinisikan lanskap politik Brasil selama lebih dari satu dekade.
Flávio Bolsonaro maju menggantikan ayahnya, yang tidak dapat mencalonkan diri karena telah divonis bersalah atas upaya kudeta terhadap Lula setelah kalah dalam pemilihan umum 2022. Sang ayah dijatuhi hukuman 27 tahun penjara dan saat ini menjalani masa tahanan di rumah karena alasan kesehatan.
Para kandidat menawarkan visi yang sangat berbeda mengenai berbagai isu, termasuk pemberantasan kejahatan terorganisasi dan upaya menghidupkan kembali perekonomian yang sedang lesu.
Hasil pemilihan ini dapat mengubah arah kebijakan Brasil dalam banyak isu yang memecah belah masyarakat untuk tahun-tahun mendatang, karena presiden berikutnya akan memiliki wewenang untuk mengisi empat kursi kosong di Mahkamah Agung sebuah lembaga yang sangat berpengaruh di negara tersebut dan memiliki total 11 kursi.