Kisah Perjuangan Frans Kaisiepo, Pahlawan asal Papua pada Uang Rp10.000

Foto: Magnific

Kisah Perjuangan Frans Kaisiepo, Pahlawan asal Papua pada Uang Rp10.000

Muhamad Marup • 21 October 2026 19:52

Jakarta: Setiap kali menggunakan uang pecahan Rp10.000, terdapat sosok Frans Kaisiepo yang terpampang di bagian depan. Pahlawan nasional asal Papua itu dipilih sebagai gambar utama pecahan tersebut dalam uang Rupiah Tahun Emisi 2016.

Bank Indonesia mulai mengedarkan uang Rp10.000 bergambar Frans Kaisiepo pada 19 Desember 2016. Penerbitan uang tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa Frans Kaisiepo sebagai pahlawan nasional yang berjuang untuk Papua dan Indonesia.

Frans Kaisiepo merupakan tokoh penting dalam sejarah Papua. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang memperjuangkan keberadaan Republik Indonesia di Papua ketika wilayah tersebut masih berada di bawah pendudukan Belanda.

Siapa Frans Kaisiepo?

Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Papua, pada 10 Oktober 1921. Pemerintah Provinsi Papua mencatat Frans sebagai pahlawan nasional Indonesia yang terlibat dalam Konferensi Malino pada 1946 sebagai wakil Papua.

Mengutip dari DJPb Kementerian Keuangan, Frans Kaisiepo memiliki peran penting dalam mempertahankan persatuan Papua dengan Indonesia. Pada 31 Agustus 1945, ketika Papua masih berada di bawah pendudukan Belanda, Frans termasuk tokoh yang menegakkan eksistensi Republik Indonesia di Papua.

Frans juga tercatat sebagai salah satu orang pertama yang mengibarkan Bendera Merah Putih dan menyanyikan Indonesia Raya di Papua. Ia juga mengusulkan penggunaan nama Irian untuk wilayah Papua.

Perjuangan di Konferensi Malino

Salah satu perjuangan penting Frans berlangsung dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan pada Juli 1946. Saat itu, Frans menjadi utusan Nederlands Nieuw Guinea sekaligus satu-satunya orang asli Papua dalam konferensi tersebut.

Frans menentang rencana Belanda yang ingin menggabungkan Papua dengan Maluku dan memasukkannya ke dalam Negara Indonesia Timur. Ia memperjuangkan gagasan agar Papua memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Dalam konferensi tersebut, Frans juga mengusulkan nama Irian, kata dari bahasa Biak dan memiliki makna “cahaya yang mengusir kegelapan”. Selain itu, kata Irian kemudian dipopulerkan sebagai akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland.

Frans Kaisiepo. Foto: Franskaisiepo.blogspot.com

Melawan Belanda hingga Dipenjara

Perjuangan Frans tidak berhenti setelah Konferensi Malino. Pada 10 Juli 1946, ia mendirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak dan terus memperjuangkan keberadaan Indonesia di Papua.

Sikapnya terhadap pemerintahan Belanda membuat Frans menghadapi tekanan. Frans kemudian dipenjara oleh Belanda dari 1954 hingga 1961.

Setelah bebas, ia kembali melanjutkan perjuangannya melalui jalur politik. Pada 1961, Frans mendirikan Partai Irian Sebagian Indonesia (ISI) yang bertujuan memperjuangkan penyatuan Papua dengan Republik Indonesia.

Melalui ISI, Frans turut membantu pendaratan sukarelawan Indonesia di Mimika. Perjuangan tersebut kemudian berlangsung dalam rangkaian proses yang mengarah pada pengembalian wilayah Papua dari Belanda kepada Indonesia.

Peran dalam Pemerintahan

Frans Kaisiepo tetap aktif dalam pemerintahan dan politik setelah perjuangannya dalam proses penyatuan Papua dengan Indonesia.

Ia terpilih menjadi anggota parlemen untuk Papua dalam pemilihan Majelis Permusyawaratan Rakyat pada 1973. Pada 1977, Frans diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung sebagai wakil untuk urusan Papua.

Frans juga pernah menjabat sebagai gubernur Papua. Namanya kemudian digunakan untuk sejumlah fasilitas publik, termasuk Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak.

Penetapan Pahlawan Nasional

Frans Kaisiepo meninggal dunia pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih. Atas perjuangannya, pemerintah menetapkan Frans Kaisiepo sebagai pahlawan nasional pada 1993 melalui Keputusan Presiden Nomor 077/TK/1993 dan sejumlah penghargaan lainnya. Nama Frans Kaisiepo kemudian digunakan untuk KRI Frans Kaisiepo-368 milik TNI Angkatan Laut. Namanya juga digunakan untuk penamaan Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak.

Gambar di Uang Rp10.000

Bank Indonesia mencantumkan Frans Kaisiepo pada uang Rp10.000 Tahun Emisi 2016 sebagai bentuk penghormatan atas jasanya kepada Indonesia.

Pada bagian depan uang tersebut terdapat gambar Frans Kaisiepo. Sementara bagian belakang menampilkan Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan, pemandangan Taman Nasional Wakatobi, serta bunga Cempaka Hutan Kasar.

Bank Indonesia mulai mengedarkan pecahan tersebut pada 19 Desember 2016. Uang Rp10.000 itu memiliki warna dominan ungu.


(Siti Nahdia Usman)

(Muhamad Marup)