Erupsi gunung Ile Lewolok di Lembata. ANTARA/HO-PPG Lewotolok
Aktivitas Gunung Ile Lewotolok Tinggi, Alami 1.234 Kali Gempa
Lukman Diah Sari • 23 October 2026 12:04
Kupang: Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), melaporkan bahwa aktivitas vulkanis gunung tersebut masih tinggi selama periode 1–15 Oktober 2026. Merespons kondisi ini, warga setempat diimbau untuk tetap waspada.
Pengamat Gunung Ile Lewotolok, Stanilaus Ara Kian, menjelaskan bahwa aktivitas erupsi masih mendominasi rekaman kegempaan. Kendati demikian, jumlah kejadian erupsi dan embusan menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
“Selama periode 1–15 Oktober 2026, aktivitas erupsi masih terjadi dengan tinggi kolom berkisar 100 hingga 600 meter dari puncak. Kolom erupsi teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam, sedangkan asap kawah mencapai ketinggian 300 meter," katanya di Kupang, Jumat, 23 Oktober 2026, melansir Antara.
Meski jumlah kegempaan secara umum menyusut, frekuensi gempa guguran justru mengalami peningkatan. Secara visual, guguran material teramati meluncur sejauh 300 hingga 700 meter dari puncak dengan arah dominan ke tenggara. Saat erupsi, kerap terdengar suara gemuruh dan dentuman berintensitas lemah hingga sedang.
Pengamatan visual juga menunjukkan adanya pendaran sinar api di puncak gunung. Ketika erupsi terjadi, material pijar terlontar ke berbagai arah, tetapi masih jatuh dan tertahan di dalam area kawah.

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur/dok. Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok.
Aktivitas Gunung Ile Lewotolok juga ditandai dengan keberadaan aliran lava yang terbentuk sejak Agustus hingga September 2026. Aliran lava ke sektor selatan sebelumnya mencapai jarak 1.800 meter, sedangkan ke sektor timur laut mencapai 1.100 meter dari bibir kawah.
Sementara itu, aliran lava ke sektor tenggara sepanjang 700 meter pada September tidak menunjukkan perubahan signifikan. Pada periode evaluasi terbaru ini, aliran terpanjang yang teramati mencapai sekitar 500 meter ke sektor tenggara dan 400 meter ke sektor selatan.
Dari sisi deformasi, pengukuran menggunakan Electronic Distance Measurements (EDM) menunjukkan pola bergantian antara deflasi (pengempisan) dan inflasi (penggembungan) pada tubuh gunung. Kondisi ini erat kaitannya dengan keluarnya material saat erupsi maupun suplai magma menuju permukaan dangkal.
Status Waspada
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi tersebut, tingkat aktivitas Gunung Ile Lewotolok dipastikan masih bertahan pada Level II atau Waspada.Masyarakat diimbau mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas, terutama di sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut gunung. Warga juga diminta disiplin menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan akibat abu vulkanis, melindungi mata dan kulit, serta menutup rapat tempat penampungan air bersih.
Selain itu, masyarakat yang bermukim di sekitar lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak gunung diwanti-wanti untuk bersiaga terhadap ancaman banjir lahar, terutama saat memasuki musim penghujan.