Lutfi Duga Ada Kepentingan Asing di Balik Isu MSCI, Singgung Keterlibatan Temasek dan GIC

Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi. Foto: Antara/Ismar Patrizki.

Lutfi Duga Ada Kepentingan Asing di Balik Isu MSCI, Singgung Keterlibatan Temasek dan GIC

Husen Miftahudin • 21 October 2026 13:13

Jakarta: Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menduga terdapat kepentingan investor asing di balik usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Lutfi menyinggung peran institusi investasi Singapura, Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC). Ia menduga tekanan terhadap klasifikasi pasar modal Indonesia berkaitan dengan kepentingan investor asing yang ingin kembali membeli saham domestik pada harga lebih rendah.
 
Ia mempertanyakan dasar usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Lutfi menilai kategori Standalone Market berkaitan dengan kondisi pasar yang memiliki pembatasan akses investasi atau arus modal.

"Anda tahu, apa syarat sebuah negara dimasukkan ke sebuah Standalone Market? Itu kasta untuk negara yang menerapkan capital control," ungkap Lutfi dalam pernyataannya yang diunggah di Instagram resmi pribadinya @m.lutfi, dikutip Rabu, 21 Oktober 2026.

"Capital control itu artinya negara yang tidak punya nilai tukar bebas, pemerintahnya mematok kurs resmi di atas kertas tapi di jalanan berlaku kurs pasar gelap karena orang dilarang jual beli mata uang asing," jelas dia menambahkan.

Menurut Lutfi, Indonesia tidak menerapkan pengendalian modal (capital control) seperti pembatasan transaksi mata uang asing yang menjadi ciri sejumlah sistem keuangan tertentu. Atas dasar itu, ia mempertanyakan alasan Indonesia berpotensi masuk kategori Standalone Market.

Namun, MSCI menggunakan sejumlah kriteria dalam menentukan klasifikasi pasar saham, antara lain tingkat perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta aksesibilitas bagi investor internasional. Kategori Standalone Market juga dapat diterapkan ketika terjadi penurunan serius dalam aksesibilitas pasar atau ukuran dan likuiditasnya.
 


Peran dan Pengaruh MSCI hingga Stok Pertalite Turun

(Ilustrasi. Foto: Sketsa ChatGPT)

 

Singgung potensi investor beli saham murah


Lutfi menduga usulan perubahan klasifikasi dapat memicu kepanikan di pasar saham Indonesia. Menurut dia, tekanan terhadap indeks berpotensi membuka kesempatan bagi investor yang sebelumnya telah melepas kepemilikan untuk kembali membeli saham pada harga lebih rendah.

Ia juga mengklaim dana institusi asing telah keluar dalam jumlah besar dari pasar saham Indonesia. Namun, angka yang disampaikannya belum disertai data pendukung dalam bahan pernyataan yang tersedia.

"Motif sebenarnya dibalik layar jauh lebih licik, dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur, karena harganya tidak turun. Mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah," papar Lutfi.

Lutfi selanjutnya menduga tekanan terhadap MSCI bertujuan memicu penurunan indeks saham Indonesia sehingga investor asing dapat kembali mengakumulasi saham pada harga diskon.

"Jadi bagaimana caranya supaya mereka bisa masuk lagi? Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke kasta Standalone Market, bikin kepanikan massal, supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon," urai dia.

Ia pun berharap bangsa Indonesia tidak terprovokasi adanya dugaan keterlibatan asing di dalam ancaman penurunan pasar modal RI pada indeks MSCI.

"Jadi buat bangsa Indonesia, jangan mau kita diadu-adu, dibuat minder oleh negara tetangga. Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan indonesia. Kita harus kompak, kita harus patriotik, kita jaga harga diri bangsa kita sendiri," tegas Lutfi menutup pernyataannya.

(Husen Miftahudin)