Ilustrasi (freepik)
Malang Raya Mengalami Hari Tanpa Bayangan, Ini Penjelasan BMKG
Daviq Umar Al Faruq • 14 October 2026 18:08
Malang: Fenomena astronomis Hari Tanpa Bayangan atau kulminasi matahari kembali menyapa sejumlah wilayah Jawa Timur secara bertahap sejak pertengahan Oktober 2026. Masyarakat di Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang) dapat menyaksikan fenomena unik ini pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Kepastian waktu terjadinya fenomena tersebut disampaikan langsung oleh Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul. Warga Malang Raya dapat mengamati posisi matahari tepat berada di atas kepala saat tengah hari.
"Fenomena Hari Tanpa Bayangan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur sejak pertengahan Oktober. Untuk wilayah Kota Malang dan Kabupaten Malang, bakal terjadi besok pada pukul 11.15 WIB," kata Linda, Raby, 14 Oktober 2026.
Kulminasi utama terjadi ketika matahari mencapai titik tertinggi dalam lintasan harian di langit. Kondisi tersebut menyebabkan sinar matahari jatuh hampir tegak lurus sehingga bayangan benda tegak seolah-olah lenyap.
"Sehingga, kulminasi ini kerap disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan karena posisi matahari tepat berada di atas kepala atau di posisi tertinggi," tambah Linda.
Meskipun intensitas sinar matahari terasa menyengat, fenomena tahunan ini dipastikan tidak membawa dampak bahaya langsung. Lonjakan suhu udara secara drastis juga tidak akan terjadi seketika karena dinamika atmosfer serta tutupan awan masih memegang peranan penting.
"Namun, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kondisi terik saat siang hari. Karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan," terang Linda.

Hari tanpa bayangan. (Dokumentasi/ Metro TV)
Peristiwa langka yang berlangsung singkat selama beberapa menit ini merupakan fenomena wajar di negara tropis seperti Indonesia. Pergerakan semu harian matahari sepanjang tahun menjadi faktor utama yang memicu terjadinya peristiwa tersebut.
"Kami juga tegaskan, fenomena kulminasi matahari ini bukan merupakan pertanda langsung terjadinya peralihan musim (pancaroba). Peralihan musim ditentukan berdasarkan dinamika atmosfer dan perkembangan curah hujan di suatu wilayah, bukan semata-mata berdasarkan posisi matahari," ungkap Linda.