Palestina menyambut baik pemberian Nobel Perdamaian 2026 kepada Navi Pillay. (Anadolu Agency)
Palestina Sambut Baik Pemberian Nobel Perdamaian 2026 kepada Navi Pillay
Willy Haryono • 10 October 2026 16:35
Gaza: Palestina menyambut baik pemberian Nobel Perdamaian 2026 kepada ahli hukum Afrika Selatan Navi Pillay, yang menilai penghargaan tersebut sebagai apresiasi terhadap upaya membela hukum internasional dan mendokumentasikan dugaan pelanggaran Israel.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan kemenangan Pillay merupakan pengakuan terhadap "suara kebenaran dan suara kaum tertindas," sekaligus atas upayanya memajukan perdamaian dan hukum internasional.
Menurut pihak kementerian, Pillay mendedikasikan kariernya untuk menegakkan hukum dan keadilan serta membela hak-hak masyarakat tertindas di Afrika Selatan dan berbagai negara, termasuk Palestina.
Mengutip dari Anadolu Agency, Sabtu, 10 Oktober 2026, Kementerian Luar Negeri Palestina juga memuji kepemimpinan Pillay dalam Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki, termasuk Yerusalem Timur, serta Israel. Pillay memimpin komisi tersebut pada 2021-2025.
Menurut Palestina, komisi tersebut membantu mendokumentasikan genosida, kekerasan seksual, serangan terhadap anak-anak, dan pelanggaran lain yang dituduhkan kepada Israel.
Kementerian tersebut mengatakan penghargaan itu juga merupakan pengakuan bagi para pembela hukum dan keadilan internasional serta dorongan bagi upaya meminta pertanggungjawaban pelaku genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kementerian menambahkan Pillay secara konsisten membela universalitas hukum dan kesetaraan antarmanusia, termasuk bagi warga Palestina. Menurut kementerian, penghargaan tersebut menegaskan bahwa "tidak akan ada perdamaian yang langgeng tanpa keadilan dan kesetaraan bagi semua."
Komite Nobel Norwegia mengumumkan Nobel Perdamaian 2026 diberikan kepada Pillay, 85, "atas upayanya memajukan perdamaian dan hukum internasional."
"Tahun ini, penerima Nobel telah memperluas cakupan dan dampak hukum internasional secara signifikan," kata Komite Nobel, seraya menyoroti kiprah Pillay di pengadilan internasional dan sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.
Pillay lahir dari keluarga keturunan Tamil India di Durban, Afrika Selatan, pada masa apartheid. Ia memulai karier hukumnya dengan menentang diskriminasi rasial dan membela para penentang sistem apartheid.
Ia pernah menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, hakim di Mahkamah Pidana Internasional, serta presiden Mahkamah Pidana Internasional untuk Rwanda. Ia juga pernah menjadi hakim ad hoc di Mahkamah Internasional.
Komisi PBB yang dipimpin Pillay menyimpulkan dalam laporan pada 2025 bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Temuan tersebut ditolak oleh Israel.
Nobel Perdamaian akan diserahkan di Oslo pada 10 Desember, bertepatan dengan peringatan wafatnya Alfred Nobel.
Baca juga: Trump Sebut Pemenang Nobel Perdamaian 2026 Sosok yang Tak Dikenal Publik