Pemenangan Nobel Perdamaian 2026, Navi Pillay. (Anadolu Agency)
Trump Sebut Pemenang Nobel Perdamaian 2026 Sosok yang Tak Dikenal Publik
Willy Haryono • 10 October 2026 11:44
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik keputusan pemberian Nobel Perdamaian 2026 kepada Navi Pillay. Trump menyebut ahli hukum asal Afrika Selatan tersebut sebagai sosok liberal yang tidak dikenal banyak orang.
Mengutip Anadolu, Sabtu, 10 Oktober 2026, Trump mengatakan dirinya belum pernah mendengar nama Pillay, yang pernah memimpin komisi penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki. Komisi tersebut menyimpulkan Israel telah melakukan genosida di Jalur Gaza, sebuah temuan yang ditolak Israel.
"Hari ini mereka memberikan Nobel Perdamaian kepada seseorang yang belum pernah saya dengar namanya. Tidak ada yang mengenalnya. Dia sosok misterius," kata Trump dalam kampanye Partai Republik di Syracuse, New York, pada Jumat kemarin, menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Ia kemudian menambahkan, "Kendati demikian, selamat kepada pemenang."
Trump juga kembali mengklaim untuk yang kesekian kalinya bahwa ia telah "menyelesaikan delapan perang," termasuk konflik antara India dan Pakistan.
"Setiap satu dari delapan perang ini bisa membuat Anda mendapatkan Nobel Perdamaian. Saya menyelesaikan delapan perang. Belum pernah ada presiden yang melakukan hal seperti itu," ujarnya.
Trump kemudian mengkritik Komite Nobel Perdamaian dan Norwegia, negara tempat komite tersebut berkedudukan.
"Amerika Serikat, yang diwakili oleh saya sebagai presiden kalian, seharusnya menerima Nobel Perdamaian, tetapi tidak mendapatkannya. Ini merupakan noda yang tak terhapuskan bagi Norwegia," kata Trump.
Kekesalan Trump
Ia mengklaim penghargaan tersebut telah "kehilangan kredibilitasnya untuk selamanya akibat ulah segelintir ideolog radikal yang anti-demokrasi dan benar-benar merupakan musuh peradaban.""Kami tidak akan melupakan Norwegia," ujar Trump. Ia menambahkan bahwa tidak diberikannya penghargaan tersebut kepadanya menjadi "tanda lain bahwa Norwegia dan pihak-pihak lain telah merugikan negara kami."
Trump telah lama menyatakan dirinya layak menerima Nobel Perdamaian dan berulang kali mengkritik keputusan yang tidak memberikan penghargaan tersebut kepadanya.
Pillay merupakan ahli hukum yang pernah menjabat sebagai hakim sekaligus presiden Mahkamah Pidana Internasional untuk Rwanda, hakim di Mahkamah Pidana Internasional, serta Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pada 2008-2014.
Pada 2021-2025, ia memimpin komisi penyelidikan PBB mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki. Komisi tersebut menyimpulkan Israel telah melakukan genosida di Jalur Gaza, tetapi temuan itu ditolak oleh Israel.
Komite Nobel menyatakan Pillay memainkan peran penting dalam upaya memastikan para pelaku kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida dimintai pertanggungjawaban. Komite tersebut juga menilai kiprahnya telah memperluas pengaruh hukum internasional. (Razaqa Hariz)
Baca juga: Hakim Pembela Gaza Navi Pillay Menang Hadiah Nobel Perdamaian