Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu
Trump Umumkan Gencatan Senjata Sektor Energi Antara Rusia dan Ukraina
Fajar Nugraha • 12 October 2026 05:53
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu 11 Oktober 2026 mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati gencatan senjata segera terkait serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing pihak.
"Segera berlaku, ada gencatan senjata energi dalam perang antara Rusia dan Ukraina," tulis Trump di platform Truth Social miliknya, seperti dikutip dari Anadolu, Senin 12 Oktober 2026.
"Kedua belah pihak telah sepakat. Jangan melanggarnya!" tambah Trump.
Meskipun Trump menyajikannya seolah-olah kesepakatan sudah final, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada situs berita Axios bahwa pernyataan tersebut merujuk pada potensi kesepakatan yang mencakup penghentian serangan terhadap kilang minyak oleh kedua negara. Penghentian serangan terhadap kilang minyak dapat menjadi langkah awal menuju kesepakatan yang lebih luas untuk melindungi pembangkit listrik dan jaringan listrik, ujar pejabat tersebut.
Seorang pejabat Ukraina menyoroti ketimpangan mencolok dalam usulan awal Trump, dengan mencatat bahwa Ukraina bergantung pada impor solar dan bensin serta sangat membutuhkan perlindungan bagi jaringan listriknya, sementara hanya memiliki satu kilang minyak—yang tidak beroperasi penuh—untuk dijadikan objek penghentian serangan timbal balik.
Militer Ukraina menerima perintah operasional
Menanggapi pengumuman tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kepada Axios: "Pengumuman gencatan senjata itu adalah berita baru bagi saya. Namun, jika pihak Rusia menyetujui gencatan senjata energi, Ukraina juga akan setuju. Jika Presiden Trump merundingkannya dengan Putin -,tolong beri tahu kami kapan gencatan senjata dimulai,- kami siap dan akan menerimanya."Zelensky kemudian mengonfirmasi telah membahas inisiatif tersebut dengan mitra-mitra Barat, seraya menulis di platform media sosial AS, X, bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Presiden Finlandia Alexander Stubb, dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Ia menegaskan bahwa Ukraina mendukung gencatan senjata tersebut dan "penting agar Rusia juga mendukungnya."
Zelensky menambahkan bahwa Kyiv "menunggu rincian dari pihak Amerika," sembari menekankan bahwa Ukraina "senantiasa mendukung penuh langkah-langkah menuju de-eskalasi, perlindungan nyawa, serta keputusan yang diperlukan untuk mengakhiri perang dan menjamin perdamaian abadi."
"Kami sedang menunggu rincian yang jelas mengenai dialog antara Amerika dan Rusia, dan kami berharap Putin memenuhi apa yang telah disampaikan Presiden Trump," ujar Zelensky, seraya mengonfirmasi bahwa militer Ukraina telah menerima "semua perintah yang relevan."
Sementara itu, ia menyebutkan bahwa sebuah pembangkit listrik di Kharkiv diserang pada petang hari ini, tak lama setelah pengumuman Trump.
Belum ada konfirmasi segera dari pihak Moskow mengenai apakah kesepakatan tersebut telah mulai berlaku.
"Pihak Rusia sedang mempertimbangkannya," kata pejabat Gedung Putih tersebut. "Kita akan segera mengetahui apakah mereka siap."
Tekanan AS terkait pengadaan senjata
Langkah-langkah diplomatik ini bergulir di tengah laporan Financial Times yang menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mengancam akan menangguhkan mekanisme pengadaan yang memasok perangkat keras pertahanan ke Ukraina, sebagai upaya menghentikan serangan Ukraina terhadap target-target energi Rusia.Mengutip pejabat Eropa yang mengetahui diskusi akhir pekan tersebut, surat kabar Inggris itu melaporkan bahwa pejabat AS melobi berbagai ibu kota Eropa dan Kyiv untuk membatasi serangan terhadap kilang minyak Rusia. Mereka memperingatkan bahwa AS akan menghentikan pertukaran intelijen serta mekanisme pengadaan senjata Prioritized Ukraine Requirements List (PURL). Gedung Putih menolak berkomentar.
Menurut Axios, seorang pejabat Gedung Putih memperingatkan bahwa serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah membebani hubungan Zelensky dengan Trump; salah satu pejabat mencatat bahwa presiden AS tersebut "sangat marah" atas serangan-serangan itu.
Utusan presiden AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, menunda rencana perjalanan mereka ke Moskow hingga negara-negara Eropa dan Ukraina mencapai konsensus mengenai proposal bersama untuk Rusia, demikian dilaporkan Axios.
Trump pernah melontarkan klaim serupa pada bulan September, dengan menyatakan bahwa kedua negara telah sepakat untuk tidak menargetkan fasilitas energi satu sama lain, namun inisiatif tersebut tidak membuahkan hasil.
Sebelumnya pada hari Minggu, Zelensky menyatakan bahwa Kyiv siap menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia jika Moskow berhenti menyerang infrastruktur energi Ukraina. Ia menegaskan bahwa setiap langkah de-eskalasi harus bersifat timbal balik dan disertai dengan jaminan.
Trump mengaitkan lonjakan biaya energi konsumen dengan perang di Ukraina ,bukan dengan konflik yang sedang berlangsung di Iran, di tengah tekanan politik akut yang dihadapi pemerintahannya akibat inflasi harga bahan bakar menjelang pemilihan umum paruh waktu AS pada bulan November. Harga rata-rata nasional AS untuk bensin jenis regular tercatat sebesar USD4,36 per galon; angka ini naik dari USD4,30 sebulan yang lalu dan USD3,09 setahun sebelumnya, menurut data dari American Automobile Association (AAA).
Pengumuman tersebut menyusul kesepakatan pasokan diesel yang diungkapkan Trump pada Jumat bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, di mana Moskow sepakat untuk memasok bahan bakar ke pasar AS dan pasar global. Zelensky mengkritik kesepakatan itu sebagai "hadiah" bagi Putin, seraya memperingatkan bahwa pelonggaran pembatasan ekspor diesel Rusia dapat membantu mendanai upaya perang Moskow.