Kondisi Taman Air Mancur Sri Baduga yang mulai kering dampak kemarau. (MI)
Kemarau, Ikon Wisata Situ Buleud Purwakarta Mengering
Reza Sunarya • 22 October 2026 14:58
Purwakarta: Musim kemarau panjang memicu kekeringan di kawasan Taman Air Mancur Sri Baduga atau Situ Buleud, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Ikon wisata andalan yang berada tepat di jantung kota tersebut kini mengering hingga dasar tanahnya retak-retak.
Air hanya tersisa di beberapa cekungan dasar danau. Menyusutnya debit air ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mulai menimbulkan pencemaran udara akibat bau menyengat dari bangkai ikan peliharaan. Ironisnya, lokasi wisata ini baru saja menjalani proyek perbaikan taman dengan alokasi anggaran Rp145 juta.

Kondisi Taman Air Mancur Sri Baduga yang mulai kering dampak kemarau. (MI)
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, Aep Durohman, menyebut kekeringan ini memukul telak sektor pariwisata karena air merupakan komponen vital untuk operasional pertunjukan.
"Kondisi tersebut dapat memengaruhi kinerja sistem apabila peralatan, khususnya pompa, tetap dioperasikan ketika pasokan air tidak mencukupi. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan dan pemeliharaan secara berkala untuk memastikan seluruh instalasi tetap dalam kondisi aman dan berfungsi dengan baik." kata Aep Durohman, Kamis, 22 Oktober 2026.
"Dari sisi pariwisata, kondisi ini berpotensi memengaruhi kunjungan wisatawan, khususnya pada akhir pekan, mengingat pertunjukan Air Mancur Sri Baduga merupakan salah satu daya tarik utama yang mengundang masyarakat untuk datang ke Purwakarta," ungkapnya.
Dia menerangkan kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas wisata, tetapi juga berpotensi memengaruhi pergerakan ekonomi para pelaku UMKM dan pedagang di sekitar kawasan Situ Buleud.
Di sisi lain, Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Purwakarta, Entin Suryatin, belum bersedia memberikan keterangan resmi terkait ironi fasilitas di Taman Air Mancur Sri Baduga dengan alasan sedang berada di luar kantor. Begitu pula dengan Kepala Bidang Pertamanan selaku pengelola kawasan yang dilaporkan sedang tidak berada di wilayah Purwakarta.