Ratusan hektar lahan persawahan di Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tidak ditanami petani karena terdampak kemaraun panjang.ANTARA/Ahmad Fikri.
201 Hektare Sawah di Cianjur Terdampak Kemarau Panjang
Silvana Febiari • 21 October 2026 23:28
Cianjur: Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat 201 hektare lahan persawahan terdampak kemarau panjang, namun masih dalam kategori ringan. Produksi padi tahun 2026 diperkirakan tidak menurun.
Kepala Bidang Tanaman DTPHP Cianjur Dandan Hendayana mengatakan pihaknya telah mengantisipasi dampak musim kemarau sejak Maret 2026. Salah satunya dengan menyampaikan imbauan kepada para pemangku kepentingan di lapangan melakukan berbagai langkah antisipasi.
"Berbagai langkah sudah dipersiapkan sebelum masuk kemarau, sehingga sejumlah upaya antisipasi dapat langsung dilakukan seperti pemulihan saluran irigasi termasuk perbaikan dan peminjaman pompa air untuk sejumlah kecamatan," kata Dandan, dilansir dari Antara, Rabu, 21 Oktober 2026.
Berdasarkan data Juni 2026, lahan yang terancam kekeringan antara lain berada di Kecamatan Naringgul seluas 65 hektare, Cibeber 15 hektare, Karangtengah 54 hektare, Warungkondang sekitar 1 hektaree, Cikalongkulon 2 hektare, dan Cilaku 52,5 hektare. Sedangkan sisanya tersebar di wilayah selatan Cianjur.
Dari sejumlah kecamatan yang masuk dalam laporan wilayah terancam kekeringan dengan kategori ringan, belum ada laporan kekeringan kategori sedang, berat, atau puso. Hasil produksi padi pada musim tanam ke tiga masih maksimal sekitar 645 ribu ton.
Terkait penetapan lahan puso harus melalui tahapan penilaian berdasarkan perkembangan tingkat kerusakan lahan mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Pihaknya melakukan mitigasi agar lahan yang terancam tidak naik kategori.

Kantor Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.ANTARA/Ahmad Fikri.
Terkait informasi sekitar 500 hektare lahan di Kecamatan Takokak yang disebut tidak dapat ditanami, pihaknya belum dapat memastikan kebenarannya. Hingga kini, laporan terperinci dari pihak terkait, termasuk pemerintah desa dan kecamatan, belum diterima.
“Kami belum dapat memastikan karena belum menerima laporan rinci dari lapangan, ditambah selama ini Kecamatan Takokak tidak termasuk wilayah potensial utama untuk tanaman padi,” ujarnya.
Pihaknya melakukan berbagai langkah strategis termasuk melakukan pemutakhiran data luas lahan sawah berdasarkan data Kementerian ATR/BPN yang telah diverifikasi guna meningkatkan produksi padi tahun 2026.
Pemetaan dilakukan hingga tingkat kecamatan dan desa, termasuk melakukan identifikasi indeks per tanam. Mulai dari satu hingga tiga kali tanam dengan luas tanam sekitar 170 ribu hektar lebih.
Target produksi padi pada 2026 masih berpotensi berubah seiring koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Saat ini, target produksi ditetapkan sebesar 970 ribu ton dari luas tanam sekitar 140 ribu hektare.