Banner larangan mendaki atau berwisata di sekitar gunung Ile Lewotolok di Lembata. ANTARA/Ho-PPG
Pendaki Gunung Ile Lewotolok Dilarang Beraktivitas dalam Radius 2 Km
Silvana Febiari • 29 September 2026 15:47
Kupang: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melarang wisatawan dan pendaki beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Larangan tersebut selalu dicantumkan dalam setiap rekomendasi laporan.
“Sesuai rekomendasi tidak boleh beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok,” kata Pengamat Gunung Ile Lewotolok Stanislaus Ara Kian, dilansir dari Antara, Selasa, 29 September 2026.
Dia mengatakan walaupun sudah dilarang, masih ada wisatawan atau pendaki nakal yang beraktivitas di radius yang dilarang PVBMG.
Saat ini, status gunung masih dalam status waspada. Aaktivitas permukaan juga cukup tinggi sehingga berbahaya jika ada wisatawan serta pendaki yang beraktivitas di radius tersebut.
Pemerintah Kabupaten Lembata juga telah mengeluarkan imbauan serupa, tetapi masih ada yang melanggarnya. Jika terjadi sesuatu di area tersebut, risikonya menjadi tanggung jawab masing-masing.
“Jika terjadi sesuatu di luar tanggung jawab kami, tetapi buat banyak orang susah nanti,” ujar dia.

Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok di Lembata. ANTARA/Ho-PPG Ile Lewotolok
Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur membatasi aktivitas wisatawan serta masyarakat di kawasan Gunung Api Ile Lewotolok. Hal ini menyusul peningkatan aktivitas vulkanik gunung tersebut.
“Kegiatan adat dan budaya, yang melibatkan keramaian massa di kawasan rawan bencana, pariwisata, termasuk Pesta Kacang, ditunda sementara sampai ada pemberitahuan lebih lanjut dari pemerintah daerah berdasarkan rekomendasi PPGA-PVMBG,” kata Bupati Lembata Kanisius Tuaq dalam surat edaran yang dikeluarkan di Lewoleba.
Pembatasan tersebut diberlakukan sebagai langkah mitigasi untuk melindungi masyarakat dari potensi bahaya erupsi, awan panas, lontaran material, gas beracun, dan lahar hujan di kawasan gunung api.