Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. (Yeni Safak)
Rusia Tolak Keras Penempatan Infrastruktur Militer NATO di Afghanistan
Willy Haryono • 5 October 2026 19:07
Moskow: Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan Moskow memandang setiap penempatan infrastruktur militer NATO di Afghanistan dan negara-negara tetangganya sebagai sesuatu yang “sama sekali tidak dapat diterima."
Ia memperingatkan bahwa langkah semacam itu berisiko mengganggu stabilitas kawasan Asia Tengah.
Berbicara dalam konsultasi Format Moskow ke-8 mengenai Afghanistan pada Jumat lalu, Lavrov mengatakan penempatan aset aliansi di dekat perbatasan Rusia dengan alasan apa pun dapat mengganggu keamanan dan memicu kembali ketegangan di Asia Tengah.
Penilaian terhadap Pemerintahan Taliban
Lavrov menilai pemerintahan yang dipimpin Taliban telah mengonsolidasikan kendali atas wilayah Afghanistan dan menjalankan pemerintahan dengan “cukup sukses," lima tahun setelah berakhirnya pendudukan Barat.“Agustus ini menandai lima tahun sejak pembebasan negara tersebut dari dua dekade pendudukan Barat. Pemerintahan nasional yang berkuasa, dipimpin gerakan Taliban, mengambil kendali atas wilayah negara dan memerintah dengan cukup sukses,” kata Lavrov, seperti dikutip dari Yeni Safak, Senin, 5 Oktober 2026.
Ia juga mengatakan pasukan keamanan Afghanistan secara aktif memerangi ISIS dan kelompok teroris lainnya. Menurut Lavrov, ratusan militan telah dieliminasi dan sejumlah serangan tingkat tinggi berhasil digagalkan dalam operasi terbaru.
Kerja Sama Keamanan dan Ekonomi Afghanistan
Lavrov menekankan bahwa penguatan kemampuan kontraterorisme Kabul merupakan kepentingan bersama negara-negara di kawasan.“Saya ingin menekankan bahwa merupakan kepentingan bersama kita untuk membantu memperkuat kemampuan kontraterorisme Kabul dengan memberikan bantuan logistik dan keahlian serta mempertahankan kontak antara dinas khusus dan badan keamanan,” ujarnya.
Lavrov juga mengutip perkiraan PBB yang menunjukkan produksi opium Afghanistan turun 90 persen sejak 2022. Sementara itu, sekitar 170 fasilitas manufaktur telah dibuka dan perdagangan luar negeri Afghanistan mencapai USD14 miliar pada tahun lalu meski negara tersebut menghadapi sanksi berat dari negara-negara Barat.
“Rusia akan terus melakukan pengiriman bantuan kemanusiaan secara rutin,” kata Lavrov.
Ia menambahkan bahwa pengiriman bantuan berikutnya diperkirakan tiba dalam satu atau dua bulan ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah peringatan bahwa lebih dari 17 juta warga Afghanistan dapat menghadapi kekurangan pangan pada musim dingin ini.
Baca juga: Eks Sekjen NATO: Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan ‘Kekalahan Terbesar’