Ilustrasi, toko sepatu di Tiongkok. Foto: South China Morning Post.
Nike Pangkas Karyawan, Penjualan di Tiongkok Anjlok 26%
Husen Miftahudin • 3 October 2026 09:38
Guangdong: Nike memperdalam restrukturisasi perusahaan di bawah CEO Elliott Hill. Langkah tersebut dilakukan ketika masalah perusahaan di Tiongkok semakin memburuk.
Melansir CNA, Sabtu, 3 Oktober 2026, perusahaan mengumumkan rencana untuk memangkas lebih banyak pekerjaan dan mengubah struktur divisi bisnis global. Langkah ini dilakukan setelah raksasa pakaian olahraga memproyeksikan penurunan pendapatan tahunan yang jauh lebih tajam dari perkiraan.
Proyeksi yang lemah pada Kamis 1 Oktober 2026, menunjukkan bahwa tantangan Nike kemungkinan akan berlanjut setidaknya selama beberapa kuartal ke depan, terutama di Tiongkok.
Penjualan Nike di Tiongkok merosot 26 persen berdasarkan basis mata uang konstan pada kuartal pertama. Kondisi ini semakin menambah kekhawatiran investor mengenai kecepatan pemulihan yang dilakukan Hill. Saham Nike turun 8,5 persen dalam perdagangan setelah jam bursa.
Selama dua tahun pertama masa jabatan Hill, Nike berupaya menghidupkan kembali pertumbuhan dengan kembali berfokus pada olahraga utama seperti lari serta membangun kembali hubungan dengan peritel grosir.
Namun, para analis mengatakan masalah Nike sebagian besar berasal dari kegagalan perusahaan dalam meluncurkan cukup banyak produk baru yang menarik. Kondisi ini menyebabkan peningkatan promosi dan pemberian diskon.
"Bisnis Nike Performance kami belum cukup besar untuk mengimbangi tekanan yang kami lihat pada Nike Sportswear, merek Jordan, dan Greater Tiongkok," kata Hill dalam panggilan setelah pengumuman hasil kinerja.
Ia mengatakan, menghidupkan kembali area bisnis Nike yang lemah tersebut akan membutuhkan waktu, sembari menunjuk pada pengurangan volume peluncuran produk retro Jordan secara sengaja.
Nike ubah struktur operasional
Nike mencatat pendapatan kuartal pertama di bawah ekspektasi analis, mengumumkan perubahan pada model operasionalnya.
Perubahan tersebut mencakup pemangkasan tenaga kerja dan perubahan menjadi tiga wilayah geografis, yakni Amerika, Asia Pasifik dan Greater Tiongkok, serta EMEA, dari sebelumnya empat wilayah.
Nike juga berencana membuka kampus baru di India dengan kemampuan yang kuat dan akses terhadap talenta. Perusahaan belum mengetahui jumlah posisi yang akan dipangkas. Pemberitahuan kepada karyawan akan mulai dilakukan pada 2027.
Program tersebut diperkirakan menghasilkan penghematan sekitar USD2,5 miliar hingga tahun fiskal 2031. Sebagian besar penghematan diperkirakan terealisasi pada tahun fiskal 2029 dan 2030.
Nike memperkirakan pendapatannya akan turun dalam kisaran satu digit tinggi pada tahun fiskal 2027. Rata-rata analis memperkirakan pendapatan setahun penuh turun sekitar 2 persen, berdasarkan data yang dihimpun LSEG.
"Tidak ada yang secara inheren salah dengan rencana restrukturisasi tersebut, tetapi rencana itu menunjukkan bahwa model Nike saat ini sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan, yang kemudian menimbulkan pertanyaan mengapa perubahan ini tidak dilakukan lebih cepat," kata Direktur Pelaksana GlobalData Neil Saunders.

(Ilustrasi, pabrik sepatu di Tiongkok. Foto: Xinhua/Zhou Yi)
Penjualan Nike di Tiongkok kembali jeblok
Tiongkok, yang secara historis menjadi sumber keuntungan bagi Nike, menunjukkan kelemahan yang cukup besar dalam beberapa kuartal terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika pesaing internasional dan kelompok pakaian olahraga domestik semakin berkembang.
Investor masih berfokus pada tanda-tanda perbaikan, yang menurut para analis akan sangat bergantung pada inovasi produk lokal.
Penjualan di Tiongkok telah turun selama sembilan kuartal berturut-turut, dengan perlambatan semakin cepat pada periode yang dilaporkan. Wilayah tersebut menyumbang sekitar 15 persen dari pendapatan tahunan Nike dan merupakan pasar terbesar ketiga perusahaan setelah Amerika Utara serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Mulai Januari, Nike akan menarik hak penjualan daring dari sejumlah mitra ritel terbesarnya di Tiongkok. Langkah tersebut merupakan taruhan besar bahwa kontrol yang lebih ketat terhadap harga dan distribusi dapat membantu memulihkan kinerja perusahaan.
Namun, pembenahan digital tersebut akan membutuhkan "beberapa musim", kata Hill. Ia menambahkan pendapatan dan profitabilitas Nike di Tiongkok dalam jangka pendek akan terdampak.
Para analis juga mempertanyakan apakah langkah-langkah yang dilakukan secara tiba-tiba tersebut, meskipun kemungkinan membantu Nike mengatasi maraknya pemberian diskon, akan meyakinkan konsumen Tiongkok dimana mereka menginginkan produk yang dijual Nike.
"Nike tidak memiliki masalah saluran di Tiongkok, tetapi masalah produk," kata analis senior BNP Paribas Laurent Vasilescu dalam catatan penelitian.
Ia menambahkan dirinya terkejut dengan jangka waktu singkat yang ditetapkan perusahaan untuk menghentikan penjualan grosir secara daring di Tiongkok.
Penjualan Amerika Utara tumbuh
Penjualan di Amerika Utara, naik 2 persen berdasarkan basis mata uang konstan pada kuartal pertama. Bisnis Performance Nike turut berkontribusi terhadap pertumbuhan tersebut dan mendapat manfaat dari Piala Dunia.
Penjualan kuartalan Nike turun sekitar 4 persen menjadi USD11,21 miliar pada kuartal pertama, dibandingkan dengan perkiraan rata-rata analis sebesar USD11,32 miliar.
Namun, margin kotor perusahaan naik 60 basis poin menjadi 42,8 persen pada kuartal yang berakhir 31 Agustus, terbantu oleh biaya pergudangan dan logistik yang lebih rendah.
S&P Dow Jones Indices mengeluarkan Nike dari indeks S&P pada September sebagai bagian dari penyeimbangan kembali secara triwulanan, setelah Nike selama 18 tahun tercatat dalam indeks perusahaan-perusahaan blue-chip tersebut. (Natasya Dwi Putri)