Ilustrasi konser musik. Foto: Antara.
Pelibatan Beragam Sektor Bikin Pengukuran Dampak Ekonomi Event Makin Relevan
M Sholahadhin Azhar • 30 October 2026 20:35
Jakarta: Pelibatan beragam sektor disebut membuat pengukuran dampak ekonomi menjadi semakin relevan. Mulai dari sektor hiburan, akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga jasa produksi dan penyelenggaraan acara.
"Pengukuran ini menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan menunjukkan kontribusi nyata industri,” ujar CEO Konect, Aryo Febrian Moedanton, dalam keterangan yang dikutip Jumat, 30 Oktober 2026.
Melalui EEC, kata Aryo, pelaku industri, pemerintah, dan sektor swasta didorong untuk melihat kontribusi ekonomi sebuah event secara lebih menyeluruh. Sekaligus, membuka ruang diskusi mengenai cara mengoptimalkan manfaatnya.
“Melalui EEC, kami ingin membantu pelaku industri mengukur dampak ekonomi sekaligus nilai pengalaman yang dihasilkan sebuah event," kata Aryo.
Mengusung tema “From Invisible to Indispensable” dan tagline “Make It Count”, IVES 2026 mengajak pelaku industri untuk melihat lebih jauh dari sekadar acara yang sukses terselenggara. Nilai sebuah event juga tercermin dari aktivitas ekonomi yang bergerak, peluang bisnis yang tercipta, serta dampak berkelanjutan yang dapat dihasilkan bagi masyarakat.
Selain pengukuran dampak ekonomi, pengembangan industri event juga membutuhkan strategi untuk menjaga relevansi dan nilai dalam jangka panjang. Head of Marketing & Promotion Musica, Chandra Samhari, menilai industri musik tidak cukup hanya mengandalkan popularitas sesaat dalam mengembangkan karya atau kekayaan intelektual.
“Tantangannya bukan hanya menciptakan momentum, tetapi mengubah momentum tersebut menjadi nilai yang bertahan dalam jangka panjang,” kata Chandra.
Di sisi lain, nilai sebuah event juga ditentukan oleh kualitas pelaksanaan dan kesiapan operasional. Ketua Presidium API, Reza Pamungkas menegaskan, tingginya minat penonton yang tercermin dari tiket terjual habis tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah pertunjukan.
“Tiket sold out bukan jaminan pertunjukan siap berjalan. Kesiapan teknis, produksi, dan koordinasi tim menjadi kunci untuk memastikan pengalaman yang dijanjikan kepada audiens benar-benar terwujud,” kata Chandra.
Tantangan serupa dalam menjaga nilai penyelenggaraan juga dihadapi industri meetings, incentives, conventions, and exhibitions (MICE). General Manager Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta, Herman Courbois menyebut pelaku industri dituntut menjaga kualitas sekaligus memastikan sumber daya digunakan secara efektif dan efisien.
“Tantangan industri MICE bukan hanya tumbuh di tengah tekanan anggaran, tetapi bagaimana menjaga kualitas dan tetap memberikan nilai melalui strategi yang efektif dan efisien,” kata Herman.

Konferensi Pers Ives. Foto: Istimewa
IVES 2026 akan menghadirkan lebih dari 40 sesi dengan melibatkan lebih dari 70 pembicara dan moderator. Acara ini juga menargetkan lebih dari 240 pertemuan melalui program speed networking untuk memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi antar-pelaku industri.
Rangkaian kegiatan akan berlangsung melalui tiga panggung utama, yaitu The Industry, The Business, dan The Engine Room. Ketiganya menghadirkan perspektif berbeda mengenai perkembangan industri, strategi bisnis, serta aspek teknis penyelenggaraan event.
Penyelenggaraan IVES 2026 turut didukung enam asosiasi industri event, yakni APMI, Backstagers, Event Owner, IMARINDO, IVENDO, dan Rental Indonesia. Keterlibatan berbagai asosiasi ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengalaman dan sudut pandang pelaku industri untuk memperkuat ekosistem event nasional.