Anak dengan down syndrome yang menjadi barista. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Sekolah Inklusif Belum Optimal, SLB Didorong Diperbanyak
Fachri Audhia Hafiez • 1 November 2026 16:31
Jakarta: Perhimpunan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) menyoroti kualitas sekolah inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Mereka mendorong regulator untuk menambah jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) sekaligus menggembleng kompetensi tenaga pengajar.
“Yang kami dorong bahwa sekolah SLB bisa diperbanyak. Kemudian kalau yang sekolah umum itu guru-gurunya dibekali, kurikulum juga dibuat bervariasi sesuai dengan kemampuan anak. Itu sih yang kami lakukan advokasi,” kata Ketua Umum POTADS, Eliza, di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu, 1 November 2026.
Baca Juga :
“Karena sekolah-sekolah umum itu baru sebatas iya menerima anak-anak DS (Down Syndrome), tapi secara fasilitas,keterampilan guru, pengetahuan guru, dan juga ekosistem sekolah itu belum disiapkan, gitu,” jelas Eliza.
Ketidaksiapan sistem tersebut memicu persoalan baru berupa hilangnya hak belajar anak akibat ketidakmampuan mengikuti standar kurikulum reguler yang disamaratakan.

Ketua Umum POTADS, Eliza. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
“Jadi kadang-kadang ada anak yang sudah mencoba pada akhirnya enggak bertahan lama, begitu. Dari segi materi juga masih harus mengikuti materi umum, enggak mungkin mereka bisa mengikuti itu. Jadi akhirnya datang ke sekolah cuma hanya enggak ngapa-ngapain di sekolah. Jadi pada akhirnya mungkin setahun, dua tahun memilih untuk mundur,” terang Eliza.
Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya kuota penerimaan murid berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah negeri yang memaksa sebagian besar orang tua beralih ke lembaga pendidikan swasta dengan biaya lebih tinggi.
“Kadang-kadang satu sekolah cuma menerima satu tahun cuma tiga, empat. Sementara yang daftar banyak, begitu ya. Jadi pada akhirnya ke pilihannya ke swasta,” kata Eliza.
(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)