Presiden Korsel Lee Jae-myung Ajak Korut Berdialog untuk Akhiri Perang Korea

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. (Anadolu Agency)

Presiden Korsel Lee Jae-myung Ajak Korut Berdialog untuk Akhiri Perang Korea

Willy Haryono • 15 August 2026 20:04

Seoul: Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung kembali menyerukan dialog langsung dengan Korea Utara untuk mengakhiri secara formal Perang Korea serta membahas langkah praktis guna menghentikan pengembangan kemampuan nuklir Pyongyang.

Seruan tersebut disampaikan Lee dalam upacara peringatan Hari Pembebasan Korea ke-81 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Peringatan tersebut menandai berakhirnya penjajahan Jepang atas Semenanjung Korea pada 1945.

Lee meminta Korea Utara meninggalkan konfrontasi dan kembali ke meja perundingan.

“Mari kita mengesampingkan niat untuk saling mengancam dan memulai pembahasan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lama sebagai pihak-pihak yang terlibat langsung,” ujar Lee, seperti dikutip Yonhap.

“Dalam proses tersebut, kita juga dapat membahas cara-cara efektif untuk menghentikan pengembangan kemampuan nuklir Korea Utara,” lanjutnya.

Perang Korea berakhir pada 1953 melalui perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Karena itu, secara teknis Korea Utara dan Korea Selatan masih berada dalam status perang.

Lee mengatakan pemerintahannya akan berupaya mengganti “sistem gencatan senjata yang tidak stabil” dengan rezim perdamaian permanen di Semenanjung Korea.

Seoul Tawarkan Koeksistensi Damai

Seruan Lee kembali menegaskan kebijakan pemerintahannya yang mendorong koeksistensi damai dengan Korea Utara.

Sejak menjabat pada Juni tahun lalu, Lee telah berulang kali menyerukan pemulihan komunikasi dan hubungan antar-Korea. Namun, Pyongyang sejauh ini belum memberikan respons positif terhadap berbagai tawaran rekonsiliasi dari Seoul.

Dalam pidato Hari Pembebasan tahun lalu, Lee berjanji menghormati sistem politik Korea Utara dan tidak mengejar penyatuan Semenanjung Korea melalui penyerapan Korea Utara oleh Korea Selatan.

Dia juga berkomitmen tidak melakukan tindakan bermusuhan terhadap Pyongyang.

“Saya berharap Korea Selatan dan Korea Utara dapat duduk berhadapan untuk hidup berdampingan secara damai dan tumbuh bersama,” kata Lee.

Dia menyerukan pengurangan permusuhan dalam cara kedua negara memandang satu sama lain, norma yang digunakan, maupun sistem yang diterapkan.

Lee juga mengusulkan sistem keamanan “berlapis” untuk mencegah terjadinya krisis serta berjanji mengambil langkah-langkah perdamaian secara konsisten berdasarkan perkembangan situasi di Semenanjung Korea.

“Dengan mendorong respons positif dari Korea Utara, saya akan menciptakan Semenanjung Korea yang stabil,” ujarnya.

Menurut Lee, terciptanya perdamaian di Semenanjung Korea tidak hanya akan memberikan manfaat bagi kedua Korea, tetapi juga dapat memperkuat kerja sama di Asia Timur Laut dan berkontribusi terhadap dunia yang bebas dari senjata nuklir.

Perkuat Hubungan dengan Jepang

Dalam pidato tersebut, Lee juga menyoroti hubungan Korea Selatan dengan Jepang.

Dia memuji perkembangan “diplomasi ulang-alik” antara Seoul dan Tokyo yang memungkinkan kedua negara meningkatkan komunikasi di tengah berbagai kepentingan bersama.

Lee mengatakan Korea Selatan akan memperdalam kerja sama dengan Jepang dalam sejumlah sektor strategis, termasuk rantai pasok, energi, serta teknologi canggih.

Pendekatan tersebut menunjukkan upaya Seoul menjalankan dua jalur diplomasi secara bersamaan: mendorong dialog dan pengurangan ketegangan dengan Korea Utara, sekaligus memperkuat kerja sama dengan Jepang dan negara-negara mitra lainnya di kawasan.

Baca juga:  Lee Jae-myung Peringatkan Risiko Bentrokan Korsel-Korut yang Tak Disengaja

(Willy Haryono)