Renggut 120 Ribu Nyawa, TBC Pembunuh Nomor Satu di Indonesia Melampaui Covid-19

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Foto: Metro TV/Muhammad Adyatma Damardjati.

Renggut 120 Ribu Nyawa, TBC Pembunuh Nomor Satu di Indonesia Melampaui Covid-19

Muhammad Adyatma Damardjati • 13 August 2026 17:46

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat Tuberkulosis (TBC) menjadi penyakit menular pembunuh nomor satu di Indonesia. Penyakit ini merenggut hingga 120.000 nyawa setiap tahunnya, melampaui tingkat fatalitas pandemi Covid-19.

"Ini adalah pembunuh penyakit menular paling tinggi di Indonesia, lebih tinggi dari Covid. Oleh karena itu, Pak Presiden bilang segera jalankan Cek Kesehatan Gratis (CKG), karena TB adalah bagian dari CKG," ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin usai meninjau program skrining di Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah, Jakarta Utara, Kamis, 13 Agustus 2026.
 


Budi menegaskan penanganan dan eliminasi TBC kini resmi menjadi salah satu program prioritas percepatan (quick win) Kepala Negara. Menurutnya, penyakit infeksi paru-paru yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu ini sebenarnya memiliki obat yang manjur, namun tingkat pelacakannya di masa lalu masih sangat lemah.

Ia memaparkan, pada awal masa jabatannya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi terdapat sekitar 800.000 kasus TBC di Indonesia, tetapi kapasitas deteksi nasional saat itu hanya mampu mengidentifikasi 400.000 pasien. Kesenjangan angka tersebut menyebabkan ratusan ribu penderita tidak terdeteksi dan berpotensi terus menularkan bakteri secara bebas.


Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Foto: Metro TV/Kautsar Widya P.

Menyikapi hal itu, Kemenkes mulai menerapkan strategi pelacakan secara agresif di seluruh penjuru tanah air sejak 2022. Langkah masif tersebut berhasil mendeteksi lonjakan temuan kasus hingga puncaknya mencapai 1.060.000 penderita teridentifikasi pada 2023.

"Karena kita meningkatkan skrining agresif pada 2022, 2023, dan 2024, untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia mulai turun. Dari 1,06 juta turun ke 1,02 juta. Pada 2025 nanti diproyeksikan turun lagi insidennya," kata Budi.

Budi menilai tren penyusutan kurva penularan ini membuktikan strategi Kemenkes mulai berjalan efektif. Jjumlah pasien terkonfirmasi yang diobati kini jauh lebih besar dibandingkan infeksi baru. 

Kemenkes terus mengakselerasi penanganan TBC melalui perluasan layanan rontgen dada berbasis Artificial Intelligence (AI) secara gratis di wilayah-wilayah berisiko tinggi dan padat penduduk.

(Fachri Audhia Hafiez)