Tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Menteng Atas, Jakarta. Foto: Metro TV/Damar.
Gerakan Pilah Sampah Butuh Perubahan Perilaku Masyarakat
Nattasya Amani Vrazeti • 9 September 2026 19:49
Jakarta: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menilai penerapan gerakan pemilihan sampah dari tinggat rumah tangga belum maksimal. Gerakan pemilahan sampah membutuhkan proses dan perubahan perilaku yang konsisten.
“Kami memahami bahwa penerapan budaya pilah sampah dari sumber tidak dapat dilakukan secara instan. Ini merupakan perubahan perilaku yang membutuhkan waktu dan proses yang konsisten,” ujar Humas DLH DKI Jakarta Yogi Ikhwan saat dihubungi MetroTVnews.com pada Rabu, 9 September 2026.
“Karena itu, pendekatan yang dikedepankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini adalah edukasi, sosialisasi, dan pembangunan kesadaran masyarakat agar memilah sampah dapat menjadi kebiasaan sehari-hari,” kata Yogi.
Dia mengatakan, melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, Pemprov DKI terus mendorong pemilahan dari sumbernya. Untuk memastikan efektivitas kebijakan tersebut, DLH DKI berkoordinasi dengan pengurus lingkungan dari tingkat kota administrasi, kecamatan, kelurahan, hingga RT dan RW.
"Fokus utama saat ini adalah memperkuat partisipasi masyarakat sekaligus memastikan kesiapan sistem pendukung, agar implementasi gerakan pemilahan sampah dapat berjalan efektif dan konsisten," kata Yogi.
.jpeg)
Mesin pengolahan sampah di TPS 3R Meruya Selatan. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Di sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) sampah yang masuk dari warga masih dalam kondisi bercampur antara organik dan anorganik.
Kondisi sampah yang bercampur memaksa petugas di TPS 3R memilah ulang secara manual satu per satu. Akibatnya, proses pengolahan sampah melambat di tengah target penurunan beban sampah ke Bantargebang.