Candu Gawai Sejak Dini, Mayoritas Anak di Tulungagung Mengalami Kelainan Mata

Petugas menguji kemampuan baca pada jarak tertentu untuk memeriksa kesehatan mata siswa dalam rangkaian kegiatan program Pemeriksaaan Kesehatan Gratis (PKG) Sekolah di SDN 03 Rejoagung, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (30/7/2025). ANTARA FOTO/Destyan Sujarw

Candu Gawai Sejak Dini, Mayoritas Anak di Tulungagung Mengalami Kelainan Mata

Whisnu Mardiansyah • 17 January 2026 08:30

Tulungagung: Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mencatat mayoritas anak sekolah yang menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025 mengalami kelainan visus atau miopia. Salah satu pemicu utamanya adalah penggunaan gawai secara intens sejak usia dini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, mengatakan CKG dilaksanakan untuk mendeteksi dini gangguan kesehatan pada anak sekolah mulai jenjang SD hingga SMA di seluruh wilayah Tulungagung.

"Pelaksanaan CKG menyasar sekitar 183 ribu anak sekolah. Dari hasil pemeriksaan sementara, mayoritas anak mengalami kelainan visus, meski juga ditemukan gangguan lain seperti prediabetes, prehipertensi, dan gangguan pernapasan," katanya di Tulungagung seperti dilansir Antara, Jumat, 16 Januari 2026.

Ia menjelaskan, kelainan visus secara medis dapat disebabkan faktor anatomis seperti bentuk bola mata yang terlalu panjang atau kelengkungan retina tidak normal. Sehingga cahaya tidak jatuh tepat di retina dan menyebabkan penglihatan kabur saat melihat objek jauh.

Selain faktor anatomis, kebiasaan anak yang terlalu sering menggunakan perangkat elektronik juga menjadi pemicu utama gangguan penglihatan. Paparan radiasi dari gawai, laptop, dan televisi dalam durasi panjang dinilai meningkatkan risiko miopia pada anak usia sekolah.
 


"Anak-anak sekarang lebih sering berinteraksi dengan perangkat elektronik dibandingkan bermain di luar ruangan seperti generasi sebelumnya, sehingga risiko kelainan visus menjadi lebih tinggi," ujarnya.

Kebiasaan menggunakan gawai sambil tiduran atau dalam kondisi pencahayaan ruangan yang kurang memadai juga memperberat kerja otot mata dan mempercepat terjadinya gangguan penglihatan.

Terkait pencegahan, Dinkes Tulungagung mendorong pembatasan penggunaan gawai pada anak serta mengimbau anak untuk memberi waktu istirahat pada mata, salah satunya dengan melihat objek hijau di lingkungan sekitar.


Ilustrasi. Foto: dok Istimewa.

"Jika sudah mengalami kelainan visus, penanganannya dengan penggunaan kacamata sesuai anjuran medis dan tetap memperhatikan pencahayaan agar otot mata tidak bekerja terlalu berat," katanya.

Dinkes Tulungagung juga telah berkoordinasi dengan pihak sekolah agar hasil CKG disampaikan kepada orang tua atau wali murid. Dengan demikian, penggunaan gawai pada anak dapat dikendalikan dan tidak mengganggu proses belajar.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)