Obor Optimisme

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.

Podium Media Indonesia

Obor Optimisme

Abdul Kohar, Media Indonesia • 24 March 2026 05:15

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik. Ia sinyal kewaspadaan, bahkan bisa disebut sebagai bentuk kejujuran, di tengah lanskap global yang semakin bergejolak.

Dunia hari ini jelas tidak sedang baik-baik saja. Krisis geopolitik di Timur Tengah yang tak kunjung reda, ancaman perang dagang yang kembali mengemuka, tekanan inflasi global, hingga tren suku bunga tinggi menjadi kombinasi sempurna yang dapat mengguncang fondasi ekonomi negara berkembang seperti Indonesia. Dalam konteks itulah, imbauan 'sedia payung sebelum hujan' menemukan relevansinya.
 


Pemerintah tentu tidak berbicara di ruang hampa. Berbagai simulasi telah dilakukan untuk menguji ketahanan ekonomi nasional. Salah satu pendekatan yang lazim digunakan ialah stress test, sebuah skenario ekstrem untuk melihat seberapa kuat ekonomi bertahan ketika berbagai tekanan datang secara bersamaan. Bayangkan, harga minyak dunia melonjak hingga US$120 per barel, sementara rupiah terperosok ke level 20.000 per US$.

Dalam skenario semacam itu, sektor pertama yang akan merasakan dampaknya ialah anggaran negara. Asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di kisaran US$70 per barel akan terpukul telak. Lonjakan harga ke level US$120 menciptakan jurang fiskal yang tidak kecil. Beban subsidi energi berpotensi membengkak hingga Rp150 triliun sampai Rp300 triliun, bahkan bisa sampai lebih dari Rp400 triliun.

Konsekuensinya jelas, yakni defisit anggaran yang selama ini dijaga di kisaran 2,5% hingga 2,9% PDB bisa terdorong mendekati 4%. Pilihan kebijakan pun mengerucut pada dua hal yang sama-sama tidak nyaman, yaitu menambah utang atau memangkas belanja. Dalam situasi seperti itu, ruang fiskal menjadi barang mewah.

Tekanan berikutnya datang dari inflasi. Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah akan menjalar cepat ke harga-harga domestik, mulai barang impor, ongkos transportasi, hingga pangan. Inflasi yang biasanya berada di kisaran 3%-4% berpotensi melonjak ke 6% bahkan 9%. Daya beli masyarakat pun bisa terus tergerus.

Sebagaimana diingatkan Milton Friedman dalam Inflation and Monetary Framework, inflasi kerap lahir dari tekanan biaya yang diperparah respons moneter. Ketika tekanan itu datang bersamaan, inflasi menjadi sulit dikendalikan tanpa menimbulkan efek samping.


Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Bank sentral hampir pasti akan merespons dengan menaikkan suku bunga acuan. Dari kisaran 4,75%, suku bunga bisa terdorong ke level 6,5% hingga 7,5%. Kebijakan itu penting untuk menjaga stabilitas harga, tetapi di sisi lain meningkatkan biaya pinjaman. Dunia usaha akan berpikir ulang untuk berekspansi. Investasi melambat.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, tesis John Maynard Keynes kembali menemukan relevansinya. Dalam The General Theory of Employment, Interest and Money, ia menegaskan ketidakpastian ialah musuh utama investasi. Ketika pelaku usaha ragu, permintaan agregat melemah dan pertumbuhan ekonomi pun tersendat. Dari potensi normal 5,3%, pertumbuhan bisa melorot ke kisaran 3%-4%.

Tekanan tidak berhenti di situ. Sektor eksternal pun ikut terimbas. Surplus perdagangan yang selama ini menjadi bantalan rupiah bisa menyusut akibat mahalnya impor energi. Defisit transaksi berjalan berpotensi melebar melewati 2% PDB. Tentu, sebuah angka yang kerap memicu kegelisahan investor.

Pasar keuangan akan bereaksi cepat. Ketika rupiah menembus 20.000 per US$, arus keluar modal hampir tak terelakkan. Yield obligasi pemerintah naik, pasar saham tertekan, dan sentimen negatif menguat. Sektor perbankan pun tidak kebal. Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya dana, sementara pelemahan rupiah memperberat beban utang valas korporasi. Risiko kredit bermasalah meningkat, likuiditas mengetat.

Namun, bukan berarti Indonesia tanpa pelindung. Cadangan devisa yang berada di kisaran US$130 miliar hingga US$140 miliar masih memberikan ruang intervensi bagi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar. Diversifikasi ekspor, mulai nikel, batu bara, hingga kelapa sawit, tetap menjadi sumber devisa penting.

Di sisi fiskal, penataan ulang subsidi energi menjadi keniscayaan. Pengalihan subsidi ke bantuan langsung bagi kelompok rentan bukan hanya lebih tepat sasaran, melainkan juga membuka ruang penghematan signifikan. Disiplin menjaga defisit tetap di bawah 3% PDB tetap harus menjadi jangkar kepercayaan.

Pada akhirnya, simulasi itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan. Bahwa badai global, jika benar datang, tidak akan memilih korban. Ia akan menguji ketahanan semua negara, termasuk Indonesia.

Di titik itulah peringatan Presiden menemukan maknanya. Kewaspadaan bukan pesimisme, melainkan bentuk tanggung jawab. Dalam ekonomi, seperti juga dalam kehidupan, mereka yang bersiaplah yang paling mungkin bertahan. Waspada harus, kelewat pesimistis jangan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)