Pahlawan nasional HR Rasuna Said. Dok Kepustakaan Kowani.
Mengenal Rasuna Said, Pahlawan Nasional yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Jakarta
Arga Sumantri • 7 May 2026 17:00
Jakarta: Rasuna Said merupakan salah satu tokoh perempuan nasional yang berpengaruh. Namanya bahkan diabadikan sebagai nama jalan di kawasan strategis, Kuningan, Jakarta.
Rasuna Said merupakan salah satu pahlawan nasional yang memperjuangkan hak-hak wanita seperti R.A Kartini. Dia pernah dijuluki Singa Betina oleh sang proklamator, Soekarno (Bung Karno), karena keberanian dan aktivitasnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Rasuna Said juga jadi perempuan pertama dalam sejarah Indonesia yang ditahan pemerintah Hindia Belanda karena pidato-pidatonya yang dianggap berbahaya oleh pemerintahan kolonial.
Berikut ini profil dan jejak perjuangan Rasuna Said:
Lahir di Sumatra Barat hingga menempuh pendidikan pesantren
Mengutip kepustakaan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Rasuna Said memiliki nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Rasuna Said lahir di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 14 September 1910Rasuna Said merupakan keturunan bangsawan Minang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang saudagar Minangkabau dan tercatat sebagai aktivis pergerakan.
Setelah menamatkan jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Rasuna Said muda dikirim sang ayah untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Saat itu, ia menjadi satu-satunya santri perempuan.
Rasuna dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani. Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah Putri Padang Panjang.
Pemikiran Rasuna Said
Rasuna Said sangat memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum perempuan. Ia sempat mengajar di Diniyah Putri sebagai guru, namun berhenti pada 1930 karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum perempuan tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tetapi harus disertai perjuangan politik.Rasuna Said ingin memasukkan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri, tetapi ditolak. Rasuna Said kemudian mendalami agama pada Haji Rasul atau Dr H Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berpikir yang banyak memengaruhi pandangan Rasuna Said.
Kontroversi poligami pernah ramai dan menjadi polemik di Ranah Minang era 1930-an. Ini berakibat pada meningkatnya angka kawin cerai.
Rasuna Said menganggap perilaku ini bagian dari pelecehan terhadap kaum wanita.

Foto: Wikipedia karya pribadi Ni Putu Diah Asyanti
Jejak perjuangan politik Rasuna Said
Awal perjuangan politik Rasuna Said dimulai dengan beraktivitas di Sarekat Rakyat (SR) sebagai Sekretaris Cabang. Rasuna Said juga bergabung dengan Soematra Thawalib dan mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada 1930.Rasuna Said ikut mengajar pada sekolah-sekolah yang didirikan PERMI dan mendirikan Sekolah Thawalib di Padang. Ia juga memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukittinggi.
Rasuna Said sangat mahir dalam berpidato mengecam pemerintahan Belanda. Rasuna Said juga tercatat sebagai perempuan pertama yang terkena hukum Speek Delict, aturan kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda.
Rasuna Said sempat ditangkap bersama teman seperjuangannya Rasimah Ismail dan dipenjara pada 1932 di Semarang. Setelah keluar dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja.
Rasuna Said dikenal dengan karya tulisnya yang tajam. Pada 1935, Rasuna menjadi Pemimpin Redaksi majalah Raya. Majalah ini dicap radikal karena tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatra Barat.
Namun, polisi rahasia Belanda (PID) mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawan. Sedangkan tokoh-tokoh PERMI yang diharapkan berdiri melawan penguasa kolonial justru tidak bisa berbuat apa pun. Rasuna Said sangat kecewa. Ia pun memilih pindah ke Medan, Sumatra Utara.
Pada 1937, di Medan, Rasuna mendirikan perguruan putri. Guna menyebarluaskan gagasannya, ia membuat majalah mingguan bernama Menara Poeteri.
Setelah Kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatra mewakili daerah Sumatra Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya.
Rasuna Said diabadikan jadi nama jalan di Jakarta
Rasuna Said meninggal di Jakarta pada 2 November 1965 di usia 55 tahun. Namanya diabadikan pada salah satu jalan protokol di Jakarta, yakni Jalan HR Rasuna Said yang berlokasi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.Kawasan ini merupakan salah satu area vital DKI Jakarta. Di jalan sepanjang 4,9 kilometer tersebut, berdiri gedung-gedung tinggi dan berbagai pusat aktivitas bisnis dan masyarakat.
Tidak hanya perkantoran swasta, Jalan HR Rasuna Said juga menjadi area pusat pemerintahan. Banyak perwakilan negara-negara sahabat berkantor di jalan tersebut.