BPS: Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Berkurang 430 Ribu Orang

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud. Foto: Tangkapan layar YouTube BPS.

BPS: Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Berkurang 430 Ribu Orang

Husen Miftahudin • 5 August 2026 12:44

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi September 2025 yang sebesar 8,25 persen.
 
Penurunan tingkat kemiskinan turut diikuti berkurangnya jumlah penduduk miskin dari 23,36 juta orang pada September 2025 menjadi 22,93 juta orang pada Maret 2026 atau berkurang sekitar 430 ribu orang.
 
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengatakan, BPS mencatat garis kemiskinan nasional pada Maret 2026 sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Nilai tersebut meningkat 4,33 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp641.443 per kapita per bulan.
 
Menurut Edy, garis kemiskinan sebaiknya dipahami dalam konteks rumah tangga karena sebagian besar kebutuhan, seperti biaya tempat tinggal, listrik, dan konsumsi pangan, ditanggung secara bersama.
 
Pada Maret 2026, rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,62 anggota rumah tangga. Dengan komposisi tersebut, garis kemiskinan rumah tangga secara nasional mencapai Rp3.091.866 per rumah tangga per bulan.
 
BPS menjelaskan besaran garis kemiskinan rumah tangga berbeda di setiap provinsi karena dipengaruhi tingkat harga, pola konsumsi masyarakat, serta rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin.
 

 

Kemiskinan di desa masih lebih tinggi

 
Berdasarkan wilayah, tingkat kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan mencapai 10,67 persen. Sementara di perkotaan 6,34 persen.
 
"Terjadi penurunan tingkat kemiskinan baik di perdesaan maupun perkotaan dibandingkan September 2025," ujar Edy dalam konferensi pers Rilis Berita Resmi Statistik di kanal YouTube BPS, Rabu, 5 Agustus 2026.
 
BPS juga mencatat adanya perbedaan kondisi kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami penurunan di perkotaan, yang menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan.
 
Sebaliknya, indeks tersebut meningkat di perdesaan sehingga mengindikasikan jarak pengeluaran masyarakat miskin terhadap garis kemiskinan semakin melebar.
 
Kondisi serupa juga terjadi pada Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Indeks P2 menurun di perkotaan, mencerminkan distribusi pengeluaran masyarakat miskin yang semakin merata. Sementara itu, indeks tersebut meningkat di perdesaan yang menunjukkan ketimpangan pengeluaran antarrumah tangga miskin masih bertambah.


(Potret kemiskinan di Indonesia. Foto: Medcom.id)
 

Pulau Jawa masih jadi kantong kemiskinan terbesar

 
Secara spasial, jelas Edy, penurunan tingkat kemiskinan terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Penurunan terdalam tercatat di Pulau Jawa dengan penurunan sebesar 0,21 poin persentase.
 
Meski demikian, Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbesar, yakni 12,02 juta orang atau sekitar 52,42 persen dari total penduduk miskin nasional.
 
"Sementara itu, Pulau Kalimantan mencatat jumlah penduduk miskin paling sedikit, yakni 870 ribu orang atau sekitar 3,79 persen dari keseluruhan penduduk miskin di Indonesia," papar Edy.

(Husen Miftahudin)