Kemarau Makin Meluas, BMKG: Sebagian Wilayah Masuk Puncak

Ilustrasi kekeringan. Foto: Dok. MGN.

Kemarau Makin Meluas, BMKG: Sebagian Wilayah Masuk Puncak

Lukman Diah Sari • 10 July 2026 09:06

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa memasuki Juli 2026, wilayah di Indonesia yang memasuki musim kemarau semakin meluas. Sebagian wilayah mulai berada pada puncak musim kemarau.

"Indikasi meluasnya musim kemarau terlihat dari 48,9 persen wilayah Indonesia atau sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) yang telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026, 11,3 persen lebih banyak dibandingkan dasarian sebelumnya," jelas BMKG dalam laman resmi, Jumat, 10 Juli 2026.


Ilustrasi - Kekeringan. ANTARA/Raisan Al Farisi/dok

Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) juga menunjukkan peningkatan wilayah yang mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang. Sejumlah 329 titik pengamatan, atau sekitar 6,77 persen dari seluruh titik pengamatan tercatat mengalami HTH kategori sangat panjang (31–60 hari), lebih banyak dari pengamatan sebelumnya.

Analisis citra satelit terkini juga menunjukkan keberadaan udara kering dari selatan Indonesia, terutama di sekitar Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara. Massa udara kering ini berpotensi mengurangi peluang pertumbuhan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

"Musim kemarau yang semakin meluas ini didukung dengan masih bertahannya Fenomena El Niño di Samudra Pasifik, terlihat dari indeks Niño 3.4 sebesar +1,25 serta Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -24,7, sehingga potensi pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia semakin tinggi," papar BMKG.

Potensi Hujan Masih Terjadi

Meskipun secara umum potensi hujan di wilayah Indonesia berkurang, aktivitas dinamika atmosfer regional terpantau masih terjadi di beberapa lokasi, dan menyebabkan terjadinya hujan lebat, seperti yang terjadi di Kalimantan Utara pada tanggal 6-7 Juni 2026 lalu.

Salah satu faktor regional yang memicu curah hujan hingga 84 mm/hari tersebut adalah Siklon Tropis Bavi. Analisis terkini menunjukkan siklon tropis Bavi memiliki tekanan udara minimum 925 hPa, kecepatan angin maksimum 100 knot, dan termasuk dalam kategori 4.

"Sehingga meskipun lokasinya cukup jauh dari wilayah Indonesia, siklon tropis ini tetap memberikan dampak tidak langsung di sebagian wilayah, khususnya Indonesia bagian utara," kata BMKG.

(Lukman Diah Sari)